Dengarkabar.com – Snap Inc. resmi memperkenalkan Specs, kacamata augmented reality (AR) terbaru yang dibanderol USD 2.195 atau sekitar Rp39 juta. Perangkat ini menjadi langkah ambisius perusahaan untuk menghadirkan era komputasi baru yang diklaim dapat mengurangi ketergantungan pengguna terhadap smartphone.
CEO Snap, Evan Spiegel, menyebut Specs sebagai awal dari transformasi besar dalam cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Menurutnya, perangkat tersebut membawa pengalaman komputasi langsung ke lingkungan sekitar pengguna, bukan lagi terbatas pada layar ponsel yang berada di dalam saku.
“Specs adalah awal dari era baru komputasi. Smartphone menaruh kehidupan kita di dalam saku. Specs membawa komputasi ke dunia nyata, tempat di mana kehidupan benar-benar terjadi,” kata Spiegel.
Kacamata pintar ini sudah tersedia untuk pemesanan awal dan dijadwalkan mulai dikirim ke konsumen di Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis pada musim gugur tahun ini.
Hadirkan Pengalaman AR dan AI dalam Satu Perangkat
Snap mengembangkan Specs sebagai perangkat mandiri yang memadukan teknologi augmented reality dan kecerdasan buatan (AI). Pengguna dapat melihat petunjuk arah secara langsung di lingkungan sekitar tanpa harus membuka aplikasi peta di smartphone.
Selain itu, perangkat ini memungkinkan pengguna melakukan pengukuran objek tanpa alat ukur fisik, memperoleh bantuan AI saat mengerjakan proyek, hingga mendapatkan informasi secara instan tanpa perlu menghentikan aktivitas untuk mencari jawaban melalui perangkat lain.
“Bayangkan berjalan menyusuri kota dan melihat petunjuk arah tepat di tempat yang Anda butuhkan, mengukur tanpa perlu mengeluarkan pita meteran, atau mendapat bantuan AI saat Anda sedang mengerjakan proyek tanpa harus berhenti untuk mencari jawabannya. Itu yang membuat augmented reality berbeda,” tulis Snap.
Ke depan, pengguna juga dapat memanfaatkan asisten AI untuk berbagai kebutuhan, mulai dari navigasi, mengenali objek yang dilihat, menonton video, menjelajahi internet, memainkan gim AR, hingga merekam aktivitas dari sudut pandang pengguna.
Masuk ke Pasar Wearable AI yang Semakin Padat
Peluncuran Specs terjadi di tengah persaingan yang semakin ketat di pasar perangkat wearable berbasis AI dan augmented reality. Sejumlah perusahaan teknologi besar juga tengah berlomba mengembangkan produk serupa.
Apple lebih dulu menghadirkan headset AR melalui Vision Pro yang dijual dengan harga di atas USD 3.000. Namun, perangkat tersebut belum menunjukkan keberhasilan besar dalam adopsi pasar.
Sementara itu, Meta telah memasarkan kacamata pintar hasil kolaborasi dengan Ray-Ban, meskipun belum menghadirkan produk dengan kemampuan augmented reality penuh. Di sisi lain, OpenAI juga diketahui sedang mengembangkan perangkat wearable berbasis AI, meski detail produknya masih belum diungkap.
Belajar dari Kegagalan Spectacles
Sebelum menghadirkan Specs, Snap pernah mencoba memasuki pasar kacamata pintar melalui Spectacles pada 2016. Produk yang dijual seharga USD 130 itu gagal menciptakan permintaan besar di kalangan konsumen.
Meski demikian, perusahaan menilai Specs hadir dengan kemampuan yang jauh lebih maju. Produk terbaru ini dibangun menggunakan sistem operasi khusus dan didukung lebih dari 7.000 hak paten yang diklaim mampu menghadirkan pengalaman komputasi yang lebih lengkap.
Menurut Snap, Specs mengisi celah antara kacamata AI dan headset AR konvensional.
“Kacamata AI nyaman dikenakan, tapi kemampuannya terbatas. Headset sangat tangguh, namun bisa tak nyaman saat dipakai dan mengisolasi pengguna. Specs mewakili kategori baru: lebih tangguh dari kacamata AI, lebih nyaman dipakai ketimbang headset, dan sepenuhnya mandiri, tanpa tambahan modul alat atau kabel penghubung,” ujar perusahaan.
Tantangan Harga dan Daya Tahan Baterai
Meski menawarkan teknologi canggih, Specs menghadapi sejumlah tantangan untuk diterima pasar secara luas. Salah satunya adalah harga yang sangat tinggi, yang dinilai menjadi hambatan bagi segmen konsumen muda yang menjadi target utama Snap.
Ben Hatton, analis dari FDM CCS Insight, menilai banderol USD 2.195 membuat perangkat tersebut sulit menjadi produk massal dalam waktu dekat.
Selain harga, daya tahan baterai juga menjadi sorotan. Specs hanya mampu beroperasi sekitar empat jam dalam sekali pengisian daya. Menurut Hatton, peningkatan kenyamanan dan mobilitas yang ditawarkan perangkat ini harus dibayar dengan kapasitas baterai yang lebih terbatas.
“Terlepas dari fitur dan pengalaman mengesankan yang tersedia melalui Specs, kacamata dengan daya tahan baterai 4 jam serta desain tebal takkan menggantikan smartphone dalam waktu dekat,” ujarnya.
Diluncurkan Saat Kondisi Bisnis Snap Tertekan
Peluncuran Specs berlangsung di tengah tekanan yang masih membayangi kinerja bisnis Snap. Saham perusahaan telah merosot lebih dari 30% sejak awal tahun dan kini diperdagangkan di bawah USD 6 per lembar.
Respons pasar terhadap pengumuman Specs juga belum sepenuhnya positif. Setelah peluncuran produk tersebut, saham Snap tercatat turun lebih dari 4%, menunjukkan sebagian investor masih meragukan potensi komersial perangkat baru itu.
Sebelumnya, pada April lalu, perusahaan juga melakukan efisiensi dengan memangkas sekitar 1.000 karyawan atau setara 16% dari total tenaga kerja.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Snap tetap menaruh harapan besar pada Specs sebagai langkah penting menuju masa depan komputasi berbasis augmented reality. Namun, dengan harga premium dan keterbatasan baterai yang ada saat ini, perjalanan menuju ambisi menggantikan smartphone tampaknya masih membutuhkan waktu yang tidak singkat. (LLN/*)










Komentar