Review Toy Story 5: Ketika Mainan Berhadapan dengan Dunia Digital

- Jurnalis

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:09 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Review Toy Story 5: Ketika Mainan Berhadapan dengan Dunia Digital (Foto:Toy Story 5)

Review Toy Story 5: Ketika Mainan Berhadapan dengan Dunia Digital (Foto:Toy Story 5)

Dengarkabar.com – Toy Story 5 kembali membawa penonton ke dunia mainan yang penuh petualangan. Namun berbeda dari film-film sebelumnya, sekuel terbaru produksi Pixar Animation Studios ini tidak hanya menyajikan kisah persahabatan dan petualangan, tetapi juga mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan keluarga modern: perubahan cara anak-anak bermain di era teknologi.

Film yang mulai tayang di bioskop Indonesia pada 17 Juni 2026 ini disutradarai Andrew Stanton dan ditulis bersama Kenna Harris. Sejumlah pengisi suara legendaris kembali hadir, termasuk Tom Hanks sebagai Woody, Tim Allen sebagai Buzz Lightyear, Joan Cusack sebagai Jessie, serta Greta Lee yang memperkenalkan karakter baru bernama Lilypad atau Lily.

Meski Woody dan Buzz tetap menjadi bagian penting dalam cerita, fokus utama kali ini diberikan kepada Jessie. Pergeseran sudut pandang tersebut menghadirkan nuansa baru sekaligus memperluas eksplorasi tema yang diangkat dalam waralaba Toy Story.

Bonnie dan Kehadiran Lily

Cerita mengikuti Bonnie yang kini telah berusia delapan tahun. Ia masih menikmati permainan imajinatif dan senang menciptakan berbagai petualangan bersama mainan kesayangannya.

Namun, lingkungan di sekitarnya telah banyak berubah. Di tengah kehidupan yang semakin terhubung dengan teknologi, Bonnie mulai kesulitan menemukan teman-teman seusianya yang memiliki minat bermain serupa.

Melihat kondisi tersebut, orang tuanya memberikan sebuah tablet interaktif berbentuk katak bernama Lilypad atau Lily. Kehadiran perangkat ini perlahan mengubah keseharian Bonnie.

Lily menawarkan beragam hiburan digital, permainan daring, hingga cara baru untuk berinteraksi dengan dunia luar. Seiring waktu, perhatian Bonnie pun semakin banyak tersita oleh perangkat tersebut.

Perubahan itu membuat Jessie merasa khawatir. Ia percaya bahwa permainan langsung memiliki nilai yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar digital. Dari sinilah konflik utama berkembang, mempertemukan dunia mainan tradisional dengan kemajuan teknologi modern.

Baca Juga :  Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara Kasus Chromebook

Situasi semakin menegangkan ketika Jessie dan Bullseye terpisah dari Bonnie. Keduanya kemudian menjalani petualangan yang membawa mereka menghadapi berbagai tantangan sekaligus memahami makna perubahan zaman.

Bukan Sekadar Pertarungan Mainan dan Gadget

Salah satu kekuatan terbesar Toy Story 5 terletak pada tema yang diangkat. Film ini mengajukan pertanyaan sederhana namun relevan: apakah mainan masih memiliki tempat ketika hampir seluruh hiburan dapat diakses melalui sebuah perangkat digital?

Selama bertahun-tahun, perdebatan mengenai dampak gadget terhadap kreativitas anak terus berlangsung. Banyak pihak beranggapan bahwa permainan digital membuat anak kehilangan kemampuan berimajinasi karena dunia, karakter, aturan, dan tujuan permainan sudah disediakan sejak awal.

Sebaliknya, mainan fisik memberikan ruang yang lebih luas bagi anak untuk menciptakan dunianya sendiri. Sebuah boneka dapat berubah menjadi pahlawan super, dokter, naga, atau tokoh apa pun sesuai imajinasi. Mobil-mobilan pun bisa menjadi kendaraan balap hingga alat penyelamat dunia.

Namun, Toy Story 5 tidak mengambil posisi ekstrem dengan menyalahkan teknologi. Film ini justru menunjukkan bahwa kreativitas anak tidak hilang karena kehadiran perangkat digital, melainkan mengalami perubahan bentuk.

Saat ini, anak-anak juga dapat menyalurkan kreativitas melalui teknologi. Mereka mampu membangun dunia virtual, membuat video, menggambar menggunakan aplikasi, hingga menciptakan cerita melalui berbagai platform digital.

Pentingnya Ruang untuk Berimajinasi

Pesan utama film ini bukan tentang memilih antara mainan atau gadget. Yang menjadi sorotan adalah pentingnya menjaga ruang bagi anak untuk berimajinasi secara mandiri.

Mainan fisik memiliki keunggulan yang sulit digantikan teknologi. Ketika anak bermain dengan boneka atau figur aksi, tidak ada algoritma yang mengarahkan pengalaman bermain. Tidak ada notifikasi yang mengalihkan perhatian maupun sistem hadiah digital yang dirancang untuk membuat pengguna terus bertahan.

Baca Juga :  Lembur Sampai Malam? Ini Tips Menyimpan Sup Kaldu Instan di Kantor

Yang tersisa hanyalah anak dan imajinasinya.

Dalam proses tersebut, anak belajar membangun cerita, menyelesaikan konflik, mengambil keputusan, dan menciptakan dunia dari nol. Semua terjadi secara alami melalui aktivitas bermain.

Toy Story 5 mengingatkan bahwa bermain bukan sekadar sarana mengisi waktu luang. Aktivitas itu merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak, termasuk dalam memahami hubungan sosial, kerja sama, empati, serta cara menghadapi kegagalan.

Meski sebagian nilai tersebut juga dapat ditemukan dalam dunia digital, pengalaman bermain secara langsung tetap menawarkan sensasi dan manfaat yang unik.

Refleksi yang Relevan untuk Orang Tua dan Anak

Pada akhirnya, Toy Story 5 bukan hanya kisah tentang mainan yang takut tergeser oleh teknologi. Film ini menghadirkan refleksi yang lebih luas mengenai hubungan manusia dengan imajinasi di tengah perkembangan zaman.

Teknologi akan terus berkembang, perangkat digital akan semakin canggih, dan dunia virtual akan semakin menarik. Namun film ini menegaskan bahwa selama anak-anak masih memiliki kesempatan untuk menciptakan cerita mereka sendiri, imajinasi akan tetap hidup.

Pesan tersebut membuat Toy Story 5 terasa relevan bagi keluarga modern. Alih-alih mempertentangkan mainan dan gadget, film ini mengajak penonton mencari keseimbangan agar teknologi dapat menjadi pelengkap, bukan pengganti, pengalaman bermain yang membangun kreativitas anak.

Dengan pendekatan tersebut, Toy Story 5 berhasil menjadi lebih dari sekadar film animasi keluarga. Ia hadir sebagai pengingat bahwa imajinasi tetap menjadi salah satu kemampuan paling berharga yang dimiliki manusia, bahkan di era digital yang terus berkembang.

Berita Terkait

9 Manfaat Bersepeda bagi Tubuh dan Mental, Bukan Sekadar Bikin Bugar
Baki Resmi Masuk Dunia Isekai, Retsu Kaioh Siap Jalani Petualangan Fantasi
6 Cara Menjadi Storyteller Andal untuk Pemula, Bikin Cerita Lebih Hidup
4 Buku Public Speaking yang Bisa Bantu Kamu Lebih Percaya Diri Saat Bicara
Avengers Endgame: Encore Tayang di Indonesia September 2026, Ada Materi Baru
Coachella 2026 Bukan Sekadar Festival Musik, Biaya Tembus Rp150 Juta
Pulau Summer Roy di Norwegia Utara, Tempat Matahari Terbit dan Terbenam Sekali Setahun?
Bersin Bisa Bikin Masuk Penjara? Ini 5 Kasus Aneh yang Berujung Masalah Hukum
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 22:41 WIB

9 Manfaat Bersepeda bagi Tubuh dan Mental, Bukan Sekadar Bikin Bugar

Senin, 31 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Baki Resmi Masuk Dunia Isekai, Retsu Kaioh Siap Jalani Petualangan Fantasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 21:22 WIB

4 Buku Public Speaking yang Bisa Bantu Kamu Lebih Percaya Diri Saat Bicara

Rabu, 26 Agustus 2026 - 21:37 WIB

Avengers Endgame: Encore Tayang di Indonesia September 2026, Ada Materi Baru

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:12 WIB

Coachella 2026 Bukan Sekadar Festival Musik, Biaya Tembus Rp150 Juta

Berita Terbaru

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker (Foto: Ilustrasi AI)

Kesehatan

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Selasa, 1 Sep 2026 - 21:36 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan (Foto: Ilustrasi AI)

Nasional

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Senin, 31 Agu 2026 - 19:23 WIB