Gletser Puncak Jaya Tinggal 2 Persen, Diperkirakan Hilang pada 2026-2027

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026 - 22:02 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gletser Puncak Jaya Tinggal 2 Persen, Diperkirakan Hilang pada 2026-2027 (Foto: Dok. Istimewa)

Gletser Puncak Jaya Tinggal 2 Persen, Diperkirakan Hilang pada 2026-2027 (Foto: Dok. Istimewa)

Dengarkabar.com -Kondisi gletser Puncak Jaya yang terus menyusut. Lapisan es yang selama ini dikenal sebagai “salju abadi” Indonesia kini tersisa sekitar dua persen. Angka tersebut menunjukkan perubahan besar pada gletser di kawasan Pegunungan Sudirman, Papua. Bahkan, BMKG memperkirakan lapisan es itu dapat hilang sepenuhnya dalam waktu dekat.

Berdasarkan pemantauan BMKG, gletser Puncak Jaya memiliki luas sekitar 4,3 kilometer persegi pada 1988. Namun, luas tersebut menyusut drastis menjadi sekitar 0,09 kilometer persegi pada September 2025. Dengan demikian, gletser tersebut kehilangan sekitar 98 persen luasnya selama periode tersebut. Selain itu, BMKG memperkirakan sisa es dapat menghilang pada akhir 2026 atau awal 2027.

Gletser sendiri terbentuk melalui akumulasi salju dalam waktu yang panjang. Di wilayah tropis, massa es seperti itu hanya bertahan pada beberapa pegunungan dengan ketinggian ekstrem. Puncak Jaya menjadi salah satu kawasan tropis yang masih memiliki gletser di Indonesia. Karena itu, keberadaan gletser tersebut memiliki nilai penting bagi lingkungan dan ilmu pengetahuan.

Perubahan Iklim Mempercepat Pencairan

Penyusutan gletser Puncak Jaya berkaitan erat dengan perubahan suhu dan kondisi iklim. Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Emilya Nurjani, menjelaskan proses penyusutan dari sisi luas dan ketebalan. Fenomena serupa juga terjadi pada gletser tropis di Gunung Kilimanjaro, Afrika. Dengan kondisi tersebut, perubahan iklim turut menjadi perhatian dalam melihat masa depan gletser tropis.

Baca Juga :  6 Drakor Rating Tertinggi Paruh Pertama 2026, Netflix Dominan

BMKG menyebut perubahan iklim sebagai salah satu faktor pencairan gletser Puncak Jaya. Selain itu, fenomena El Nino dapat mempercepat proses pencairan karena meningkatkan suhu dan menciptakan kondisi lebih kering. Ketika es mencair lebih banyak daripada salju baru yang terbentuk, massa gletser terus berkurang. Akibatnya, luas dan ketebalan gletser mengalami penurunan secara bertahap.

Penelitian UGM yang terbit pada 2025 juga mencatat perubahan luas gletser Pegunungan Jayawijaya. Peneliti menggunakan citra satelit Landsat untuk mengamati perubahan gletser selama 1995 hingga 2023. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 95,95 persen luas gletser telah hilang selama periode pengamatan. Data tersebut memperlihatkan bahwa penyusutan berlangsung konsisten selama puluhan tahun.

Baca Juga :  Dugaan Korupsi Pengadaan Motor Listrik MBG Jadi Sorotan, Operasional SPPG Tetap Berjalan

Ancaman bagi Penelitian Iklim

Gletser Puncak Jaya juga memiliki peran penting dalam penelitian mengenai perubahan iklim. Para peneliti pernah memanfaatkan inti es kawasan tersebut untuk memperoleh informasi tentang kondisi iklim masa lalu. Rekaman alami itu membantu ilmuwan memahami perubahan lingkungan yang berlangsung dalam periode panjang. Karena itu, hilangnya gletser juga mengurangi sumber data alami untuk penelitian iklim.

Perubahan luas gletser menunjukkan tekanan lingkungan yang semakin nyata di kawasan tropis. Dari 4,3 kilometer persegi pada 1988, luas gletser kini hanya sekitar 0,09 kilometer persegi. Artinya, gletser Puncak Jaya telah kehilangan sekitar 98 persen luasnya dalam beberapa dekade. Sementara itu, BMKG memperkirakan sisa lapisan es dapat menghilang pada akhir 2026 atau awal 2027.

Hilangnya gletser Puncak Jaya akan menjadi perubahan penting bagi ekosistem pegunungan Papua. Selain itu, kondisi tersebut dapat memengaruhi ketersediaan data alami untuk penelitian iklim. Fenomena ini juga memperlihatkan perubahan lingkungan yang berlangsung di kawasan tropis selama beberapa dekade terakhir. (LN/*) Dengarkabar.com

Berita Terkait

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan
Gletser Dunia Mencair, Dampaknya Mulai Mengancam Kehidupan dan Ekosistem
Karhutla Indonesia Capai 72.798 Hektare
Jempol Lebih Cepat dari Otak: Selamat Datang di Era Banjir Informasi
Sungai Barito Mengering seperti Gurun
Hotspot Karhutla di Tiga Provinsi Kalimantan Melonjak 4,75 Kali Lipat
Karhutla Riau Tembus 15.738 Hektare, Lahan Gambut Paling Banyak Terbakar
Pegawai Diskominfo Kukar Jadi Tersangka Pembakaran Ruang Rapat, Ini Motifnya
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 19:23 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:46 WIB

Gletser Dunia Mencair, Dampaknya Mulai Mengancam Kehidupan dan Ekosistem

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:15 WIB

Karhutla Indonesia Capai 72.798 Hektare

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Jempol Lebih Cepat dari Otak: Selamat Datang di Era Banjir Informasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:56 WIB

Sungai Barito Mengering seperti Gurun

Berita Terbaru

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker (Foto: Ilustrasi AI)

Kesehatan

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Selasa, 1 Sep 2026 - 21:36 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan (Foto: Ilustrasi AI)

Nasional

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Senin, 31 Agu 2026 - 19:23 WIB