Meta Gelontorkan Rp248 Triliun untuk AI, Kini Dituntut Buktikan Hasil

- Jurnalis

Kamis, 18 Juni 2026 - 09:09 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Meta Gelontorkan Rp248 Triliun untuk AI, Kini Dituntut Buktikan Hasil (Foto: Wikipedia)

Meta Gelontorkan Rp248 Triliun untuk AI, Kini Dituntut Buktikan Hasil (Foto: Wikipedia)

Dengarkabar.com – Meta tengah menghadapi ujian besar setelah menggelontorkan investasi raksasa demi mengejar ketertinggalan dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI). Setelah menghabiskan sekitar USD 14 miliar atau setara Rp248 triliun untuk memperkuat divisi AI, perusahaan kini dituntut menunjukkan bahwa langkah tersebut mampu menghasilkan keuntungan nyata.

Investasi besar itu menjadi bagian dari strategi CEO Meta, Mark Zuckerberg, untuk mempercepat pengembangan teknologi AI yang sempat tertinggal dibandingkan para pesaing utama seperti OpenAI, Anthropic, dan Google.

Salah satu langkah paling mencolok adalah masuknya Alexandr Wang, pendiri startup AI Scale AI, ke dalam proyek ambisius Meta. Wang yang kini berusia 29 tahun dikenal sebagai salah satu talenta muda paling berpengaruh di industri AI. Selain mengakuisisi kepemilikan besar di Scale AI, Meta juga merekrut sejumlah insinyur perusahaan tersebut untuk memperkuat tim internal.

Muse Spark Jadi Titik Balik Meta

Peran Wang mulai mendapat sorotan setelah peluncuran model AI bernama Muse Spark pada April lalu. Produk tersebut dianggap berhasil mengangkat kembali reputasi Meta dalam persaingan teknologi AI yang semakin ketat.

Muse Spark dikembangkan agar dapat terintegrasi secara langsung dengan berbagai layanan utama Meta, termasuk Facebook, Instagram, hingga perangkat berbasis AI seperti kacamata Ray-Ban Meta.

Keberhasilan teknis ini setidaknya membuat Meta kembali diperhitungkan di industri. Namun, hingga saat ini, pencapaian tersebut belum memberikan dampak finansial yang signifikan bagi perusahaan.

Kini, tantangan terbesar berada di tangan Zuckerberg. Ia harus membuktikan bahwa investasi besar dan pengembangan teknologi AI mampu menarik pengguna berbayar serta menciptakan sumber pendapatan baru.

Baca Juga :  GTA 6 Dominasi November 2026, Game Besar Pilih Menjauh

“Meta perlu memberi lebih banyak bukti nyata terkait adopsi maupun komersialisasi. Investor menantikan Meta memonetisasi produk baru yang mengutamakan AI, di luar dampak positif substansial yang diberikan AI dalam menyempurnakan model periklanan,” kata Ralph Schackart, analis William Blair, seperti dikutip CNBC.

Wall Street Belum Terkesan

Meski Meta mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 33 persen pada kuartal pertama, respons pasar terhadap strategi AI perusahaan masih cenderung dingin.

Dalam 12 bulan terakhir, saham Meta tercatat turun sekitar 18 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor masih menunggu bukti konkret bahwa investasi AI yang sangat besar dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Keraguan pasar tidak muncul tanpa alasan. Sebelum Muse Spark, Meta sempat mengandalkan model AI Llama yang mengusung pendekatan open source. Strategi ini memungkinkan para pengembang menggunakan dan memodifikasi model secara bebas, berbeda dengan sebagian besar kompetitor yang menerapkan sistem berbayar.

Namun, pendekatan tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Kegagalan Llama Mengubah Arah Strategi

Pada April 2025, peluncuran Llama 4 dinilai gagal memenuhi ekspektasi. Model tersebut tidak mampu menarik minat komunitas pengembang secara luas dan memicu evaluasi besar terhadap arah pengembangan AI Meta.

Situasi itu mendorong Zuckerberg mengambil langkah drastis. Dua bulan setelah kegagalan Llama 4, ia mengumumkan investasi sebesar USD 14,3 miliar ke Scale AI dan membawa Alexandr Wang ke dalam jajaran pimpinan proyek AI perusahaan.

Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Meta siap mengubah strategi untuk mengejar ketertinggalan dari para rival yang telah lebih dahulu unggul dalam pengembangan model AI generatif.

Baca Juga :  Konten "POV Gaji ke-13" ASN Jambi Jadi Sorotan Publik

Tantangan Besar Masih Mengadang

Meski Muse Spark mendapat sambutan positif secara internal, Meta masih menghadapi berbagai hambatan.

Rob May, CEO startup Neurometric, menilai posisi Meta di mata komunitas AI belum sepenuhnya pulih setelah kegagalan sebelumnya.

“Saya rasa komunitas AI sebagian besar mengabaikan Meta pada titik ini,” ujarnya.

Sementara itu, Andrew Moore, CEO startup korporat Lovelace sekaligus mantan kepala AI Google Cloud, menilai peluang Meta masih terbuka. Menurutnya, perusahaan harus mampu menunjukkan keunggulan yang jelas, baik dari sisi biaya operasional maupun aspek teknis yang penting bagi para pengembang.

Di sisi lain, persoalan internal juga menjadi perhatian. Meta baru saja melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 8.000 karyawan. Selain itu, muncul laporan mengenai ketegangan di kalangan pimpinan organisasi AI perusahaan.

Meski demikian, Wang membantah adanya konflik internal. Dalam sebuah podcast pada Mei lalu, ia menegaskan bahwa Muse Spark hanyalah awal dari rencana yang lebih besar.

Wang menyebut model tersebut sebagai “makanan pembuka” sebelum Meta menghadirkan teknologi AI yang lebih canggih pada masa mendatang.

Masa Depan AI Meta Ditentukan Monetisasi

Investasi ratusan triliun rupiah yang digelontorkan Meta menunjukkan betapa pentingnya AI bagi masa depan perusahaan. Namun, di tengah persaingan yang semakin sengit, keberhasilan teknis saja tidak cukup.

Investor kini menantikan satu hal yang paling krusial: kemampuan Meta mengubah inovasi AI menjadi bisnis yang menghasilkan pendapatan. Jika berhasil, langkah berani Zuckerberg dapat menjadi titik balik bagi perusahaan. Sebaliknya, kegagalan dalam monetisasi berpotensi membuat investasi jumbo tersebut dipertanyakan oleh pasar. (LLN/*)

Berita Terkait

Jempol Lebih Cepat dari Otak: Selamat Datang di Era Banjir Informasi
Profesi Bergaji Tinggi Kini Terancam PHK
Revisi UU Hak Cipta Bakal Atur AI dan Kompensasi bagi Penerbit Berita
NotebookLM Resmi Berganti Nama Menjadi Gemini Notebook
Sampah Antariksa Jadi Ladang Bisnis Baru Bernilai Rp144 Triliun
SpaceX Musnahkan 260 Satelit Starlink dalam Enam Bulan
Microsoft Hentikan Dukungan Office 2021 pada Oktober 2026, Ini Alternatifnya
Cara Melacak Lokasi Lewat WhatsApp dan Google Maps, Simak Langkah Lengkapnya
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Jempol Lebih Cepat dari Otak: Selamat Datang di Era Banjir Informasi

Jumat, 7 Agustus 2026 - 22:10 WIB

Profesi Bergaji Tinggi Kini Terancam PHK

Sabtu, 25 Juli 2026 - 19:02 WIB

Revisi UU Hak Cipta Bakal Atur AI dan Kompensasi bagi Penerbit Berita

Rabu, 22 Juli 2026 - 21:12 WIB

NotebookLM Resmi Berganti Nama Menjadi Gemini Notebook

Jumat, 10 Juli 2026 - 19:12 WIB

Sampah Antariksa Jadi Ladang Bisnis Baru Bernilai Rp144 Triliun

Berita Terbaru

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker (Foto: Ilustrasi AI)

Kesehatan

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Selasa, 1 Sep 2026 - 21:36 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan (Foto: Ilustrasi AI)

Nasional

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Senin, 31 Agu 2026 - 19:23 WIB