Tabuik Pariaman, Tradisi Muharam yang Terus Menjaga Identitas Budaya Piaman

Tradisi Tabuik menghadirkan rangkaian prosesi budaya yang sarat makna setiap bulan Muharam.

- Jurnalis

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:03 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tabuik Pariaman, Tradisi Muharam yang Terus Menjaga Identitas Budaya Piaman (Foto: Dok. Ist)

Tabuik Pariaman, Tradisi Muharam yang Terus Menjaga Identitas Budaya Piaman (Foto: Dok. Ist)

Dengarkabar.com — Dentuman gandang tasa kembali menjadi penanda kemeriahan Muharam di Kota Pariaman. Masyarakat Piaman memadati sejumlah lokasi untuk mengikuti rangkaian tradisi Tabuik. Selain menghadirkan keramaian, tradisi tahunan ini menjaga warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Masyarakat Pariaman menggelar Tabuik setiap 10 Muharam atau bertepatan dengan Hari Asyura. Tradisi tersebut berkaitan dengan kisah wafatnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam Perang Karbala. Seiring waktu, Tabuik berkembang menjadi identitas budaya Pariaman sekaligus pesta budaya yang menarik perhatian warga berbagai daerah.

Rangkaian Tabuik Dimulai Sejak Awal Muharam

Kemeriahan Tabuik tidak hanya berlangsung pada hari puncak. Sebaliknya, masyarakat menjalankan rangkaian prosesi sejak 1 Muharam melalui Maambiak Tanah. Setelah itu, rangkaian berlanjut dengan Manabang Batang Pisang dan Maradai. Kemudian, masyarakat menjalankan Turun Panja, Maatam, Maarak Jari-Jari, serta Maarak Saroban.

Rangkaian tersebut kemudian memasuki tahap Tabuik Naiak Pangkek. Setelah seluruh tahapan selesai, masyarakat menggelar prosesi puncak dengan membuang tabuik ke laut. Setiap prosesi membawa simbol serta cerita yang berkaitan dengan sejarah dan nilai budaya masyarakat Piaman. Karena itu, masyarakat tidak sekadar menyaksikan kemeriahan, tetapi juga mengikuti warisan tradisi yang penuh makna.

Baca Juga :  Waspada Malware Vidarstealer Menyebar Lewat TikTok dan Reels

Pada prosesi Maambiak Tanah, anak tabuik mengambil tanah dari dasar sungai dengan cara menyelam. Setelah itu, mereka membungkus tanah tersebut menggunakan kain putih. Masyarakat kemudian membawa tanah itu menuju rumah tabuik sebelum menempatkannya di daraga.

Prosesi tersebut memiliki filosofi tentang asal dan akhir kehidupan manusia. Filosofi itu menggambarkan manusia yang berasal dari tanah dan akhirnya kembali kepada tanah. Karena itu, Maambiak Tanah menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Tabuik. Prosesi tersebut sekaligus memperlihatkan kuatnya simbol kehidupan dalam tradisi masyarakat Pariaman.

Tahapan berikutnya juga menyimpan makna tersendiri. Dalam Manabang Batang Pisang, peserta menebang batang pisang hanya dengan satu kali tebasan. Masyarakat memaknai gerakan tersebut sebagai simbol ketajaman pedang dalam kisah Perang Karbala.

Sementara itu, prosesi Maatam menghadirkan suasana berbeda. Prosesi tersebut menggambarkan kesedihan atas penderitaan yang dialami Husain. Dengan demikian, setiap tahapan Tabuik memiliki peran dalam menyampaikan nilai sejarah melalui simbol budaya.

Keterampilan Perajin Menopang Kemegahan Tabuik

Di balik bentuk tabuik yang menjulang hingga belasan meter, terdapat proses pengerjaan yang panjang. Para perajin mengolah kayu, bambu, rotan, serta berbagai ornamen menjadi bagian-bagian tabuik. Mereka kemudian menyatukan seluruh bagian tersebut dalam prosesi Tabuik Naiak Pangkek.

Baca Juga :  Syair Adat Tari Iyo-Iyo Hidupkan Pembukaan Kenduri Sko Lima Desa

Proses itu membutuhkan keterampilan dan ketelitian para perajin. Mereka memastikan setiap bagian tersusun sesuai kebutuhan sebelum masyarakat mengarak tabuik. Karena itu, kemegahan tabuik tidak hanya lahir dari ukuran dan ornamen. Di dalamnya terdapat kerja budaya yang melibatkan keterampilan masyarakat setempat.

Bagi masyarakat Pariaman, Tabuik bukan sekadar keramaian atau bangunan besar yang bergerak menuju laut. Dentuman gandang tasa dan antusiasme wisatawan juga mengiringi pesan budaya yang lebih luas. Tradisi ini mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan sekaligus memperkenalkan sejarah kepada generasi muda.

Selain itu, Tabuik membantu masyarakat menjaga identitas budaya Piaman di tengah perubahan zaman. Generasi muda dapat mengenal tradisi melalui keterlibatan langsung dalam setiap rangkaian kegiatan. Dengan cara tersebut, masyarakat terus memberi ruang bagi warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal.

Pada akhirnya, Tabuik menghadirkan perpaduan sejarah, simbol, keterampilan, dan kebersamaan masyarakat Pariaman. Tradisi tersebut terus menjadi bagian penting dari kehidupan budaya Piaman setiap bulan Muharam. Masyarakat pun menjaga keberlangsungannya melalui rangkaian prosesi yang diwariskan secara turun-temurun. (LN/*)Dengarkabar.com

Berita Terkait

Kabut Asap Makin Pekat, 10 Ribu Masker Dibagikan Gratis di Sungai Penuh
Ribuan Masker Dibagikan di Dharmasraya Saat Kabut Asap Ganggu Kualitas Udara
Ribuan Mahasiswa KKN Bergerak di Sumbar, Bawa Program Digitalisasi hingga Lingkungan
Gowes Kembali Ramai di Padang, Komunitas Sepeda Dorong Gaya Hidup Sehat
24 Tersangka Narkoba Diamankan Polres Kerinci, Sabu dan Ganja Puluhan Gram
Kejari Sungai Penuh Amankan Rp186 Juta Kerugian Negara Desa Tanjung Tanah
Aia Aka, Minuman Tradisional Minangkabau yang Segar dan Sarat Khasiat
PWI Padang Panjang Resmi Punya Pengurus Baru, Bento Tekankan Profesionalisme Wartawan
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 12:05 WIB

Kabut Asap Makin Pekat, 10 Ribu Masker Dibagikan Gratis di Sungai Penuh

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:14 WIB

Ribuan Masker Dibagikan di Dharmasraya Saat Kabut Asap Ganggu Kualitas Udara

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:11 WIB

Ribuan Mahasiswa KKN Bergerak di Sumbar, Bawa Program Digitalisasi hingga Lingkungan

Jumat, 28 Agustus 2026 - 20:09 WIB

Gowes Kembali Ramai di Padang, Komunitas Sepeda Dorong Gaya Hidup Sehat

Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:05 WIB

24 Tersangka Narkoba Diamankan Polres Kerinci, Sabu dan Ganja Puluhan Gram

Berita Terbaru

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker (Foto: Ilustrasi AI)

Kesehatan

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Selasa, 1 Sep 2026 - 21:36 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan (Foto: Ilustrasi AI)

Nasional

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Senin, 31 Agu 2026 - 19:23 WIB