Dengarkabar.com — Dentuman gandang tasa kembali menjadi penanda kemeriahan Muharam di Kota Pariaman. Masyarakat Piaman memadati sejumlah lokasi untuk mengikuti rangkaian tradisi Tabuik. Selain menghadirkan keramaian, tradisi tahunan ini menjaga warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Masyarakat Pariaman menggelar Tabuik setiap 10 Muharam atau bertepatan dengan Hari Asyura. Tradisi tersebut berkaitan dengan kisah wafatnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam Perang Karbala. Seiring waktu, Tabuik berkembang menjadi identitas budaya Pariaman sekaligus pesta budaya yang menarik perhatian warga berbagai daerah.
Rangkaian Tabuik Dimulai Sejak Awal Muharam
Kemeriahan Tabuik tidak hanya berlangsung pada hari puncak. Sebaliknya, masyarakat menjalankan rangkaian prosesi sejak 1 Muharam melalui Maambiak Tanah. Setelah itu, rangkaian berlanjut dengan Manabang Batang Pisang dan Maradai. Kemudian, masyarakat menjalankan Turun Panja, Maatam, Maarak Jari-Jari, serta Maarak Saroban.
Rangkaian tersebut kemudian memasuki tahap Tabuik Naiak Pangkek. Setelah seluruh tahapan selesai, masyarakat menggelar prosesi puncak dengan membuang tabuik ke laut. Setiap prosesi membawa simbol serta cerita yang berkaitan dengan sejarah dan nilai budaya masyarakat Piaman. Karena itu, masyarakat tidak sekadar menyaksikan kemeriahan, tetapi juga mengikuti warisan tradisi yang penuh makna.
Pada prosesi Maambiak Tanah, anak tabuik mengambil tanah dari dasar sungai dengan cara menyelam. Setelah itu, mereka membungkus tanah tersebut menggunakan kain putih. Masyarakat kemudian membawa tanah itu menuju rumah tabuik sebelum menempatkannya di daraga.
Prosesi tersebut memiliki filosofi tentang asal dan akhir kehidupan manusia. Filosofi itu menggambarkan manusia yang berasal dari tanah dan akhirnya kembali kepada tanah. Karena itu, Maambiak Tanah menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Tabuik. Prosesi tersebut sekaligus memperlihatkan kuatnya simbol kehidupan dalam tradisi masyarakat Pariaman.
Tahapan berikutnya juga menyimpan makna tersendiri. Dalam Manabang Batang Pisang, peserta menebang batang pisang hanya dengan satu kali tebasan. Masyarakat memaknai gerakan tersebut sebagai simbol ketajaman pedang dalam kisah Perang Karbala.
Sementara itu, prosesi Maatam menghadirkan suasana berbeda. Prosesi tersebut menggambarkan kesedihan atas penderitaan yang dialami Husain. Dengan demikian, setiap tahapan Tabuik memiliki peran dalam menyampaikan nilai sejarah melalui simbol budaya.
Keterampilan Perajin Menopang Kemegahan Tabuik
Di balik bentuk tabuik yang menjulang hingga belasan meter, terdapat proses pengerjaan yang panjang. Para perajin mengolah kayu, bambu, rotan, serta berbagai ornamen menjadi bagian-bagian tabuik. Mereka kemudian menyatukan seluruh bagian tersebut dalam prosesi Tabuik Naiak Pangkek.
Proses itu membutuhkan keterampilan dan ketelitian para perajin. Mereka memastikan setiap bagian tersusun sesuai kebutuhan sebelum masyarakat mengarak tabuik. Karena itu, kemegahan tabuik tidak hanya lahir dari ukuran dan ornamen. Di dalamnya terdapat kerja budaya yang melibatkan keterampilan masyarakat setempat.
Bagi masyarakat Pariaman, Tabuik bukan sekadar keramaian atau bangunan besar yang bergerak menuju laut. Dentuman gandang tasa dan antusiasme wisatawan juga mengiringi pesan budaya yang lebih luas. Tradisi ini mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan sekaligus memperkenalkan sejarah kepada generasi muda.
Selain itu, Tabuik membantu masyarakat menjaga identitas budaya Piaman di tengah perubahan zaman. Generasi muda dapat mengenal tradisi melalui keterlibatan langsung dalam setiap rangkaian kegiatan. Dengan cara tersebut, masyarakat terus memberi ruang bagi warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal.
Pada akhirnya, Tabuik menghadirkan perpaduan sejarah, simbol, keterampilan, dan kebersamaan masyarakat Pariaman. Tradisi tersebut terus menjadi bagian penting dari kehidupan budaya Piaman setiap bulan Muharam. Masyarakat pun menjaga keberlangsungannya melalui rangkaian prosesi yang diwariskan secara turun-temurun. (LN/*) — Dengarkabar.com











Komentar