Faktor Biologis dan Gaya Hidup yang Membuat Perempuan Berumur Panjang

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:33 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Faktor Biologis dan Gaya Hidup yg Membuat Perempuan Berumur Panjang ( Ilustrasi Ai )

Faktor Biologis dan Gaya Hidup yg Membuat Perempuan Berumur Panjang ( Ilustrasi Ai )

Dengarkabar.com – Perempuan secara konsisten memiliki harapan hidup yang lebih tinggi di bandingkan laki-laki di hampir seluruh negara di dunia. Fenomena ini telah menjadi perhatian para peneliti selama puluhan tahun karena melibatkan kombinasi faktor biologis, genetik, perilaku, hingga lingkungan sosial.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keunggulan usia perempuan tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor tunggal. Sebaliknya, terdapat sejumlah elemen yang saling berkaitan dan berkontribusi terhadap peluang hidup yang lebih panjang.

Faktor Biologis Berperan Besar

Salah satu alasan utama mengapa perempuan hidup lebih lama daripada laki-laki berkaitan dengan faktor biologis. Perempuan memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y.

Keberadaan dua kromosom X memberikan cadangan genetik yang lebih baik ketika terjadi mutasi atau kerusakan pada salah satu gen. Kondisi ini dinilai dapat membantu tubuh perempuan mempertahankan fungsi biologis tertentu lebih efektif dibandingkan laki-laki.

Selain itu, hormon estrogen yang dominan pada perempuan juga dipercaya memiliki efek perlindungan terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah. Estrogen membantu menjaga elastisitas pembuluh darah serta berkontribusi dalam mengendalikan kadar kolesterol tertentu yang berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular.

Risiko Penyakit Jantung Cenderung Lebih Rendah

Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Namun, perempuan umumnya mengalami perlindungan alami terhadap penyakit ini pada usia produktif berkat pengaruh hormon estrogen.

Sebaliknya, laki-laki cenderung mengalami masalah kardiovaskular pada usia yang lebih muda. Risiko tersebut dapat meningkat akibat kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, serta tekanan pekerjaan yang tinggi.

Baca Juga :  Messi dan Ronaldo Menangis di Piala Dunia 2026, Alasannya Berbeda

Meski demikian, setelah memasuki masa menopause, perlindungan hormonal pada perempuan mulai berkurang sehingga risiko penyakit jantung turut meningkat. Namun secara keseluruhan, perempuan tetap memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi.

Perempuan Lebih Peduli Terhadap Kesehatan

Faktor perilaku juga memiliki pengaruh besar terhadap usia harapan hidup. Secara umum, perempuan lebih rutin melakukan pemeriksaan kesehatan dibandingkan laki-laki.

Kesadaran untuk berkonsultasi dengan tenaga medis sejak gejala awal muncul memungkinkan berbagai penyakit terdeteksi lebih cepat. Deteksi dini sering kali meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan dan mencegah komplikasi yang lebih serius.

Sebaliknya, banyak laki-laki cenderung menunda pemeriksaan kesehatan hingga kondisi penyakit berkembang menjadi lebih berat. Kebiasaan ini menjadi salah satu faktor yang dapat memperpendek usia harapan hidup.

Kebiasaan Berisiko Lebih Banyak Dilakukan Laki-Laki

Data kesehatan global menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering terlibat dalam perilaku yang berisiko terhadap kesehatan maupun keselamatan.

Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, penggunaan zat adiktif, hingga aktivitas berbahaya di lingkungan kerja lebih banyak ditemukan pada kelompok laki-laki. Faktor-faktor tersebut meningkatkan risiko penyakit kronis, kecelakaan, serta kematian dini.

Selain itu, laki-laki juga lebih sering bekerja pada sektor dengan tingkat risiko tinggi, seperti konstruksi, pertambangan, transportasi, dan industri berat. Paparan bahaya kerja dalam jangka panjang dapat berdampak pada kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Pengaruh Kesehatan Mental dan Tekanan Sosial

Aspek psikologis juga turut berkontribusi terhadap perbedaan harapan hidup antara perempuan dan laki-laki.

Baca Juga :  Studi Ungkap Penggemar Ronaldo dan Messi Punya Perbedaan Politik

Dalam banyak budaya, laki-laki sering menghadapi tuntutan sosial untuk terlihat kuat dan tidak menunjukkan kerentanan emosional. Akibatnya, sebagian laki-laki enggan mencari bantuan ketika mengalami stres, depresi, atau gangguan kesehatan mental lainnya.

Sebaliknya, perempuan umumnya memiliki jaringan sosial yang lebih kuat dan lebih terbuka dalam membicarakan masalah emosional. Dukungan sosial yang baik diketahui dapat membantu menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan kualitas hidup dalam jangka panjang.

Kemajuan Medis Meningkatkan Harapan Hidup Kedua Gender

Meskipun perempuan masih memiliki harapan hidup yang lebih tinggi, kesenjangan usia antara perempuan dan laki-laki di sejumlah negara mulai menyempit.

Peningkatan kesadaran kesehatan, penurunan angka perokok, kemajuan teknologi medis, serta akses layanan kesehatan yang lebih baik membantu meningkatkan usia harapan hidup laki-laki.

Para ahli menilai bahwa pola hidup sehat tetap menjadi faktor paling penting dalam menentukan kualitas dan panjang umur seseorang, terlepas dari jenis kelaminnya.

Jadi, Perempuan hidup lebih lama dari pada laki-laki karena kombinasi faktor biologis, hormonal, genetik, dan perilaku. Perlindungan alami dari hormon estrogen, keunggulan genetik melalui kromosom X, serta kebiasaan yang lebih memperhatikan kesehatan menjadi beberapa penyebab utama.

Di sisi lain, tingginya paparan perilaku berisiko, penyakit kardiovaskular, serta kecenderungan mengabaikan pemeriksaan kesehatan membuat laki-laki memiliki angka harapan hidup yang relatif lebih rendah. Meski demikian, menerapkan pola hidup sehat, menjaga kesehatan mental, dan rutin melakukan pemeriksaan medis tetap menjadi kunci utama untuk memperpanjang usia dan meningkatkan kualitas hidup bagi semua orang.

Berita Terkait

Gowes Kembali Ramai di Padang, Komunitas Sepeda Dorong Gaya Hidup Sehat
Bukan Sekadar Pengusir Kantuk, Nespresso Ajak Pecinta Kopi Eksplorasi Racikan Baru
Lembur Sampai Malam? Ini Tips Menyimpan Sup Kaldu Instan di Kantor
Sering Bayar Ongkir 1 Kg? Ternyata Banyak Paket Belanja Online Beratnya Tak Sampai 300 Gram
ChatGPT Sebut Kanker Sangat Tidak Mungkin, Pria Ini Justru Divonis Kanker Esofagus Stadium 4
Makan Telur Rebus Setiap Hari, Benarkah Baik untuk Tubuh?
Mengapa Kita Sulit Berhenti Cek Notifikasi Ponsel?
Run Club Kian Populer, Komunitas Lari Jadi Gaya Hidup Baru
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 20:09 WIB

Gowes Kembali Ramai di Padang, Komunitas Sepeda Dorong Gaya Hidup Sehat

Kamis, 13 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Bukan Sekadar Pengusir Kantuk, Nespresso Ajak Pecinta Kopi Eksplorasi Racikan Baru

Minggu, 9 Agustus 2026 - 22:14 WIB

Lembur Sampai Malam? Ini Tips Menyimpan Sup Kaldu Instan di Kantor

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 23:00 WIB

Sering Bayar Ongkir 1 Kg? Ternyata Banyak Paket Belanja Online Beratnya Tak Sampai 300 Gram

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 20:03 WIB

ChatGPT Sebut Kanker Sangat Tidak Mungkin, Pria Ini Justru Divonis Kanker Esofagus Stadium 4

Berita Terbaru

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker (Foto: Ilustrasi AI)

Kesehatan

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Selasa, 1 Sep 2026 - 21:36 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan (Foto: Ilustrasi AI)

Nasional

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Senin, 31 Agu 2026 - 19:23 WIB