Dengarkabar.com – Di tengah sejarah panjang kolonialisme yang melanda berbagai negara di Asia dan Afrika, Arab Saudi menjadi salah satu sedikit negara yang tidak pernah mengalami penjajahan formal oleh kekuatan Barat. Kondisi ini menjadikan Kerajaan Arab Saudi memiliki posisi unik dalam peta sejarah dunia modern.
Meski demikian, bukan berarti wilayah tersebut sepenuhnya terbebas dari pengaruh kekuatan asing. Arab Saudi pernah berada di bawah pengaruh Kesultanan Utsmaniyah selama berabad-abad dan menjalin hubungan strategis dengan Inggris pada awal abad ke-20. Namun, hubungan tersebut tidak pernah mengubah status Arab Saudi menjadi wilayah koloni.
Perjanjian Darin Jadi Titik Balik
Berdasarkan laporan World Atlas, salah satu momen penting yang menentukan tetap terjaganya kedaulatan Arab Saudi terjadi pada 1915. Saat itu, Kerajaan Inggris menandatangani Perjanjian Darin dengan Abdulaziz Al Saud.
Melalui perjanjian tersebut, wilayah kekuasaan Abdulaziz Al Saud ditempatkan di bawah perlindungan Inggris dalam bentuk protektorat. Status ini berbeda dengan koloni karena pemerintahan lokal tetap memegang kendali atas wilayahnya.
Sebagai konsekuensinya, Inggris memberikan dukungan politik dan militer kepada sejumlah pemimpin Arab, termasuk Abdulaziz Al Saud. Dukungan itu turut mempercepat melemahnya pengaruh Kesultanan Utsmaniyah di kawasan Arab.
Peran Ibnu Saud dalam Mempersatukan Jazirah Arab
Abdulaziz Al Saud, yang lebih dikenal sebagai Ibnu Saud, kemudian menjalankan berbagai strategi militer untuk menyatukan wilayah-wilayah di Jazirah Arab.
Menurut Encyclopedia Britannica, pada 23 September 1932, Ibnu Saud mengeluarkan dekrit yang menyatukan Najd dan Hijaz ke dalam Kerajaan Arab Saudi. Tanggal tersebut menandai lahirnya Arab Saudi modern sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
Setelah pembentukan kerajaan, berbagai negara di dunia mulai memberikan pengakuan resmi terhadap kedaulatan Arab Saudi.
Krisis Ekonomi dan Awal Era Minyak
Pada masa awal berdirinya negara, perekonomian Arab Saudi bertumpu pada sektor ziarah keagamaan seperti haji dan umrah, serta pendapatan dari bea cukai dan pajak.
Namun, pemasukan dari berbagai sektor tersebut terus mengalami penurunan. Dalam situasi yang sulit, Ibnu Saud mengambil langkah penting dengan memulai eksplorasi minyak bumi.
Ia kemudian menandatangani konsesi pertama dengan perusahaan minyak asal Amerika Serikat, Standard Oil Company of California. Langkah ini menjadi fondasi bagi transformasi ekonomi Arab Saudi di masa depan.
Sayangnya, perkembangan industri minyak sempat terhambat akibat pecahnya Perang Dunia II. Aktivitas produksi bahkan hampir terhenti sepenuhnya, sehingga kondisi keuangan pemerintahan Ibnu Saud mengalami tekanan berat dan nyaris mengalami kebangkrutan.
Netral dalam Perang Dunia II Berbuah Manis
Sepanjang sebagian besar Perang Dunia II, Arab Saudi memilih bersikap netral dan tidak terlibat langsung dalam konflik bersenjata.
Meski demikian, pada tahap akhir perang, negara tersebut bergabung dengan pihak Sekutu. Keputusan tersebut membawa dampak positif karena kegiatan eksploitasi dan produksi minyak kembali berjalan setelah perang mereda.
Kembalinya aktivitas industri minyak menjadi titik balik bagi Arab Saudi. Pendapatan dari sektor energi secara bertahap mengubah negara tersebut menjadi salah satu negara terkaya di dunia.
Sentimen Anti-Penjajahan Mengakar Kuat
Selain faktor politik dan strategi diplomasi, sikap masyarakat Arab Saudi terhadap penjajahan juga disebut berperan dalam mempertahankan kedaulatan negara.
Dalam tulisan yang diterbitkan Arab News pada 1 April 2003, disebutkan bahwa warga Arab Saudi memiliki penolakan yang kuat terhadap segala bentuk penjajahan dan campur tangan asing.
Pandangan tersebut tetap bertahan hingga era modern. Bahkan, sebagian kalangan di Arab Saudi memandang perang Irak sebagai bentuk intervensi asing yang sulit diterima.
Bukan Satu-Satunya Negara yang Tak Pernah Dijajah
Arab Saudi bukan satu-satunya negara di kawasan yang tidak pernah menjadi koloni formal kekuatan Barat.
Iran dan Afghanistan juga kerap disebut sebagai negara yang berhasil mempertahankan kedaulatannya dari penjajahan langsung. Meski Inggris, Rusia, dan sejumlah kekuatan besar lainnya pernah berupaya memperluas pengaruh hingga menaklukkan kedua wilayah tersebut, berbagai upaya tersebut pada akhirnya tidak berhasil.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kombinasi faktor geopolitik, kepemimpinan lokal, strategi diplomasi, serta perlawanan terhadap intervensi asing menjadi elemen penting yang membantu sejumlah negara mempertahankan kemerdekaannya di tengah era kolonialisme global. (LLN/*)










Komentar