Dengarkabar.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 berlangsung lebih kering dengan curah hujan di bawah kondisi normal. Kondisi tersebut dipengaruhi perkembangan fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai intensitas kuat dalam beberapa bulan mendatang sehingga berpotensi memperpanjang periode kemarau di Indonesia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan sekitar 37,6 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, 47,16 persen wilayah tercatat mengalami curah hujan di bawah normal.
“Sekitar 37,6 persen zona musim telah memasuki musim kemarau, selain itu 47,16 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal. Bahkan pada periode Juli hingga Oktober 2026 lebih dari 80 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal,” kata Ardhasena dalam keterangan yang dikutip dari laman BMKG, Jumat, 3 Juli 2026.
Ia menambahkan, puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak kekeringan di berbagai daerah.
El Nino Diperkirakan Menguat
BMKG menjelaskan bahwa perkembangan El Nino menjadi faktor utama yang memengaruhi penurunan curah hujan selama musim kemarau tahun ini. Berdasarkan prediksi terbaru, fenomena anomali iklim tersebut berpotensi mencapai intensitas yang kuat.
“Sedangkan fenomena anomali iklim El Nino telah berkembang, berdasarkan prediksi terbaru BMKG berpotensi mencapai intensitas yang kuat,” ujar Ardhasena.
Akibat pengaruh El Nino, musim kemarau tahun ini diperkirakan tidak hanya lebih kering, tetapi juga berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal maupun musim kemarau pada tahun sebelumnya.
“Sehingga, musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih kering dan lebih panjang,” katanya.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah. Selain berdampak pada ketersediaan air, penurunan curah hujan juga berpotensi memengaruhi aktivitas pertanian dan sektor lain yang bergantung pada kondisi iklim.
BMKG Minta Masyarakat Lakukan Antisipasi
Menghadapi potensi kemarau panjang, BMKG mengimbau masyarakat menyiapkan langkah mitigasi sesuai kebutuhan di masing-masing sektor. Upaya antisipasi sejak dini dinilai penting untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh kekeringan.
“BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing,” kata Ardhasena.
Khusus bagi sektor pertanian, BMKG menyarankan petani menyesuaikan jadwal tanam dengan perkembangan kondisi iklim. Selain itu, penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan serta berumur genjah juga dianjurkan untuk meminimalkan risiko gagal panen.
BMKG juga merekomendasikan diversifikasi tanaman palawija sebagai salah satu strategi menghadapi berkurangnya curah hujan selama musim kemarau.
“Bagi sektor pertanian, penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tahan kering berumur genjah. Serta diversifikasi tanaman palawija menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan,” ujar Ardhasena.
Informasi Iklim Diperbarui Setiap 10 Hari
Sebagai langkah mendukung kesiapsiagaan masyarakat, BMKG memastikan pembaruan informasi iklim akan dilakukan secara berkala setiap 10 hari sekali.
Masyarakat diimbau terus memantau informasi resmi BMKG agar memperoleh perkembangan terbaru mengenai prakiraan cuaca dan kondisi iklim. Informasi yang diperbarui secara rutin diharapkan dapat menjadi acuan dalam mengambil keputusan, terutama bagi sektor yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.










Komentar