Dua Titik Api Bromo Ditargetkan Padam Jumat, BNPB Perkuat Water Bombing

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:44 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dua Titik Api Bromo Ditargetkan Padam Jumat, BNPB Perkuat Water Bombing (Foto: M Rofiq/detikJatim)

Dua Titik Api Bromo Ditargetkan Padam Jumat, BNPB Perkuat Water Bombing (Foto: M Rofiq/detikJatim)

Dengarkabar.com terus mengikuti perkembangan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kini mempercepat operasi pemadaman. BNPB menargetkan dua titik api tersisa dapat tuntas pada Jumat (14/8).

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto meminta seluruh unsur memperkuat strategi pemadaman. Menurutnya, petugas perlu mengoptimalkan operasi water bombing dan pasukan darat. Karena itu, BNPB terus mengarahkan sumber daya menuju titik api yang masih menyala.

“Kita sudah menyampaikan kepada Danrem, Sekda, kemudian Kalaksa BPBD, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Kita upayakan dua titik ini Jumat sudah selesai,” ujar Suharyanto, Selasa (11/8/2026).

Suharyanto menjelaskan, pemadaman dua titik tersebut menjadi prioritas utama BNPB. Setelah api terkendali, pemerintah dapat menggeser sebagian helikopter ke wilayah lain. Langkah itu juga membantu daerah lain yang membutuhkan dukungan pemadaman udara.

“Saat ini ada tiga water bombing. Dua water bombing kita geser ke tempat lain karena tempat lain juga membutuhkan untuk pemadaman kebakaran,” katanya. Dengan demikian, BNPB tetap menjaga efektivitas operasi tanpa mengabaikan wilayah lain. Pemerintah juga menyesuaikan pengerahan armada berdasarkan kebutuhan lapangan.

Strategi Water Bombing Diubah

BNPB kemudian mengevaluasi pola operasi helikopter untuk mempercepat pemadaman. Salah satu perubahan utama menyangkut lokasi siaga dan pengisian bahan bakar. Kini, petugas menempatkan helikopter dalam kondisi standby di Pasuruan.

“Perbedaannya adalah helikopter standby di Pasuruan, refueling-nya di Pasuruan, sehingga lebih efektif,” jelasnya. Penempatan tersebut membuat helikopter lebih dekat dengan wilayah operasi. Selain itu, strategi tersebut memangkas waktu perjalanan menuju lokasi pemadaman.

Sebelumnya, dua helikopter menghadapi kendala waktu saat menjalankan operasi. Armada harus menempuh perjalanan menuju lokasi pengambilan air dan titik operasi. Akibatnya, waktu terbang efektif menjadi lebih terbatas.

“Kita menambahkan satu dari Pemprov, sewa satu lagi. Itu yang dua pesawat kecil harus standby dan refueling-nya, sehingga lebih efektif,” ujarnya. Dengan tambahan armada tersebut, BNPB berharap operasi udara berjalan lebih cepat. Helikopter juga dapat melakukan penerbangan berulang dengan waktu kembali lebih singkat.

Medan Terjal Hambat Pasukan Darat

Selain strategi udara, BNPB tetap mengandalkan pengerahan pasukan darat. Namun, kondisi medan menjadi salah satu kendala terbesar dalam operasi tersebut. Titik api berada pada lereng sangat terjal sehingga petugas kesulitan mencapai lokasi.

“Yang pertama medan. Jelas kita lihat, rekan-rekan media lihat itu apinya ada di ketinggian, sudutnya sampai 80 derajat. Jadi pasukan darat tidak bisa naik sampai ke atas,” katanya. Kondisi itu membuat operasi water bombing menjadi sangat penting. Pasukan darat tetap bergerak pada area yang memungkinkan mereka menjangkau titik kebakaran.

Baca Juga :  Jejak Insinyur Indonesia di Balik Potensi Marvell Tembus US$1 Triliun

Selain medan, petugas juga menghadapi keterbatasan sumber air. Kondisi tersebut turut memengaruhi kelancaran operasi water bombing. Saat ini, Ranu Pane menjadi salah satu lokasi pengambilan air untuk pemadaman.

“Kedua, sumber airnya tidak banyak, jadi hanya yang bisa diambil di Ranu Pane,” ujar Suharyanto. Karena itu, petugas harus mengatur penerbangan secara efisien. Pengaturan tersebut penting agar helikopter dapat terus mendukung proses pemadaman.

BNPB Pantau Potensi Hujan

Faktor cuaca juga ikut memengaruhi proses pemadaman kebakaran Bromo. Hingga kini, hujan belum turun untuk membantu mengendalikan api. Karena itu, BNPB bersama BMKG terus memantau perkembangan kondisi atmosfer.

Berdasarkan informasi BMKG, awan hujan berpotensi muncul pada pertengahan Agustus. Potensi tersebut muncul pada 14 hingga 16 Agustus dan kembali pada 18 Agustus. Pemerintah akan mempertimbangkan kondisi tersebut sebelum menjalankan operasi modifikasi cuaca.

“Penjelasan dari BMKG, ada potensi awan hujan tanggal 14 sampai 16 Agustus. Tanggal 18 juga,” kata Suharyanto. Jika kondisi atmosfer memenuhi persyaratan, pemerintah akan menjalankan operasi modifikasi cuaca. Operasi tersebut bertujuan memicu hujan pada kawasan yang terdampak kebakaran.

“Kalau memang betul-betul ada, nanti kita akan lakukan operasi modifikasi cuaca supaya datang hujan. Kalau hujan tentu saja lebih efektif dan lebih efisien,” ujarnya. Hujan dapat membantu membasahi kawasan yang telah terbakar. Dengan begitu, petugas memiliki peluang lebih besar untuk mengendalikan bara.

Bara Api Masih Perlu Diwaspadai

BNPB mengingatkan bahwa pemadaman tidak berhenti setelah petugas menjatuhkan air ke titik api. Petugas juga harus membasahi kawasan yang telah terbakar secara menyeluruh. Langkah tersebut penting untuk mencegah bara kembali memicu kebakaran.

Suharyanto mengatakan kondisi kering dapat memunculkan kembali percikan api. Karena itu, petugas perlu melakukan pembasahan lanjutan setelah api terlihat padam. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bara dapat kembali menyala ketika kawasan mengering.

“Walaupun sudah kering, ternyata percikan itu muncul lagi, bara api lagi seperti itu,” katanya. Oleh sebab itu, BNPB berencana mempertahankan dukungan helikopter. Pemerintah menilai pembasahan tetap penting meskipun sebagian armada bergerak ke daerah lain.

“Kalaupun ditinggal dua heli, kami tetap, kalau boleh satu heli yang kami sewa tetap lanjut. Karena sebetulnya perlu pembasahan,” ujar Suharyanto. BNPB ingin memastikan kawasan terdampak benar-benar aman dari kemunculan bara. Strategi tersebut sekaligus mengurangi risiko kebakaran kembali meluas.

Luas Kebakaran Capai 889 Hektare

Hingga pembaruan terakhir, kebakaran telah berdampak terhadap kawasan seluas 889 hektare. Area terdampak mencakup empat wilayah administrasi di Jawa Timur. Wilayah tersebut meliputi Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.

“Luas lahan yang terdampak hari ini 889. Masuknya di empat wilayah, jadi semua yang kebakaran di Probolinggo, Lumajang, Malang, Pasuruan,” kata Suharyanto. Data tersebut menunjukkan luas wilayah yang membutuhkan penanganan cukup besar. Karena itu, seluruh unsur harus menjaga koordinasi selama operasi berlangsung.

Baca Juga :  Anak Kuli Bangunan Raih Predikat Ati Trengginas di Akpol 2026

Suharyanto meminta seluruh unsur terkait terus bekerja hingga penanganan kebakaran benar-benar tuntas. Pemerintah tidak hanya mengejar pemadaman api di lapangan. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah pemulihan setelah kebakaran terkendali.

Pemerintah Siapkan Pemulihan

Salah satu perhatian pemerintah menyangkut infrastruktur dasar masyarakat yang terdampak kebakaran. Pipa air menjadi salah satu fasilitas yang mengalami kerusakan akibat paparan api. Pemerintah memastikan fasilitas tersebut masuk dalam rencana rehabilitasi.

Suharyanto mengatakan kebakaran telah membuat sejumlah pipa air terbakar dan meleleh. Kondisi tersebut dapat mengganggu kebutuhan dasar masyarakat sekitar. Karena itu, pemerintah menyiapkan penggantian seluruh pipa yang mengalami kerusakan.

“Terutama pipa air yang terbakar, meleleh, itu akan diganti semua. Karena kalau bencana besar terjadi, masyarakat tidak mendapatkan air. Kami sudah rencanakan itu,” ujarnya. Pemerintah menilai pemulihan fasilitas air menjadi bagian penting setelah bencana. Langkah tersebut juga bertujuan menjaga kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.

Kebakaran Ganggu Ekonomi Warga

Dampak kebakaran Bromo juga menyentuh aktivitas ekonomi masyarakat sekitar kawasan wisata. Sektor pariwisata menjadi salah satu sumber penghasilan warga di wilayah tersebut. Karena itu, gangguan aktivitas wisata dapat memberikan dampak ekonomi yang cukup besar.

Suharyanto menyoroti aktivitas jip, warung, dan homestay yang bergantung pada kunjungan wisatawan. Jika kawasan Bromo berhenti beroperasi, pelaku usaha lokal ikut menghadapi tekanan ekonomi. Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu memperhatikan pemulihan secara menyeluruh.

“Kalau Bromo hingga selesai, dampaknya luar biasa. Bagaimana jip-jip berhenti, warung, homestay, itu ekonomi jelas sangat bergantung,” kata Suharyanto. Pemerintah melihat pemadaman sebagai langkah awal untuk memulihkan aktivitas masyarakat. Selanjutnya, pemulihan infrastruktur dan ekonomi menjadi perhatian berikutnya.

BNPB Pastikan Operasi Berlanjut

BNPB meminta seluruh unsur mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di lapangan. Pemerintah ingin seluruh personel dan armada bekerja secara terukur. Dengan begitu, operasi pemadaman dapat mencapai hasil maksimal dalam waktu yang lebih cepat.

Suharyanto kembali menegaskan target penyelesaian pemadaman pada Jumat (14/8). BNPB berharap titik api dapat menunjukkan perkembangan signifikan melalui operasi water bombing. Selain itu, petugas tetap menjalankan pembasahan untuk mencegah bara kembali muncul.

“Semua kerahkan dulu sampai selesai. Kita pastikan Jumat sudah signifikan untuk yang water bombing sudah bisa selesai,” tegasnya. Pemerintah kini terus mengejar target tersebut dengan menggabungkan operasi udara dan darat. (LN/*)

Berita Terkait

Kabut Asap Makin Pekat, 10 Ribu Masker Dibagikan Gratis di Sungai Penuh
Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan
Ribuan Masker Dibagikan di Dharmasraya Saat Kabut Asap Ganggu Kualitas Udara
Ribuan Mahasiswa KKN Bergerak di Sumbar, Bawa Program Digitalisasi hingga Lingkungan
Gowes Kembali Ramai di Padang, Komunitas Sepeda Dorong Gaya Hidup Sehat
24 Tersangka Narkoba Diamankan Polres Kerinci, Sabu dan Ganja Puluhan Gram
Gletser Dunia Mencair, Dampaknya Mulai Mengancam Kehidupan dan Ekosistem
Kejari Sungai Penuh Amankan Rp186 Juta Kerugian Negara Desa Tanjung Tanah
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 12:05 WIB

Kabut Asap Makin Pekat, 10 Ribu Masker Dibagikan Gratis di Sungai Penuh

Senin, 31 Agustus 2026 - 19:23 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:14 WIB

Ribuan Masker Dibagikan di Dharmasraya Saat Kabut Asap Ganggu Kualitas Udara

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:11 WIB

Ribuan Mahasiswa KKN Bergerak di Sumbar, Bawa Program Digitalisasi hingga Lingkungan

Jumat, 28 Agustus 2026 - 20:09 WIB

Gowes Kembali Ramai di Padang, Komunitas Sepeda Dorong Gaya Hidup Sehat

Berita Terbaru

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker (Foto: Ilustrasi AI)

Kesehatan

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Selasa, 1 Sep 2026 - 21:36 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan (Foto: Ilustrasi AI)

Nasional

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Senin, 31 Agu 2026 - 19:23 WIB