Hadiah Piala Dunia 2026 Spanyol Terancam Pajak 30 Persen di AS

- Jurnalis

Rabu, 22 Juli 2026 - 20:17 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Hadiah Piala Dunia 2026 Spanyol Terancam Pajak 30 Persen di AS (Foto: ANTARA FOTO/Michael Teguh Adiputra Siahaan)

Hadiah Piala Dunia 2026 Spanyol Terancam Pajak 30 Persen di AS (Foto: ANTARA FOTO/Michael Teguh Adiputra Siahaan)

Dengarkabar.com – Spanyol membawa pulang gelar juara Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Argentina dengan skor 1-0. Kemenangan tersebut juga mengantarkan La Roja memperoleh hadiah sebesar USD50 juta atau sekitar Rp895 miliar dengan kurs Rp17.900 per dolar AS.

Namun, hadiah fantastis itu berpotensi tidak diterima secara utuh. Sebagian besar nilai hadiah tersebut dapat dikenai pajak federal Amerika Serikat hingga 30 persen karena turnamen berlangsung di wilayah AS.

Mengutip Fox News, Rabu (22/7), pendapatan yang berasal dari aktivitas yang dilakukan di Amerika Serikat pada umumnya menjadi objek pajak yang dipungut oleh Internal Revenue Service (IRS). Ketentuan itu juga berlaku bagi atlet asing non-residen dalam kondisi tertentu.

Aturan Pajak untuk Atlet Asing

Berdasarkan regulasi perpajakan Amerika Serikat, pembayaran kepada atlet asing yang tidak berstatus penduduk tetap umumnya dikenai pemotongan pajak federal sebesar 30 persen. Besaran tersebut dapat berubah apabila terdapat perjanjian perpajakan atau pengecualian lain yang berlaku.

Kebijakan itu memicu sorotan dari sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat. Mereka menilai tarif pajak yang tinggi dapat memberikan citra kurang baik bagi negara yang menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga internasional.

Tim Burchett Sebut Kebijakan Itu Perampokan

Anggota Kongres AS, Tim Burchett, menjadi salah satu tokoh yang paling vokal mengkritik potensi pemotongan pajak tersebut. Ia menilai kebijakan itu merugikan para atlet dan tim yang datang bertanding di Amerika Serikat.

Baca Juga :  Liao Dan, “Penipu Paling Setia” di China: Menipu Demi Menyelamatkan Istri

“Saya rasa ini adalah perampokan,” kata Burchett.

Menurut Burchett, pemerintah seharusnya mendorong atlet, suporter, dan pengunjung asing untuk membelanjakan uang mereka di Amerika Serikat, bukan justru membebani mereka dengan kewajiban pajak yang besar.

“Saya bukan pendukung IRS. Mereka menghasilkan banyak yang di sini, tapi saya tidak suka itu. Kami ingin mendorong orang-orang datang ke sini dan menghabiskan uang mereka, dan kita mengambil sebagian besar dari itu,” ujarnya.

“Kita harus memiliki sistem pajak yang lebih baik,” lanjutnya.

Kritik terhadap Sistem Perpajakan AS

Pandangan serupa juga disampaikan anggota Kongres Jonathan Jackson. Ia menilai potensi tarif pajak 30 persen atas hadiah juara Piala Dunia terlalu tinggi dan mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam sistem perpajakan Amerika Serikat.

“Ini salah, dan ini semacam menyoroti sesuatu yang lebih besar,” kata Jackson.

Jackson berpendapat perusahaan semestinya menanggung beban pajak yang lebih besar dibandingkan para pekerja. Menurutnya, sistem perpajakan saat ini justru memberikan keuntungan melalui berbagai celah pajak yang tersedia bagi korporasi.

Baca Juga :  Safari Diklaim Lebih Hemat Baterai dan Lebih Aman dari Chrome

“Mereka seharusnya membayar pajak daripada memiliki celah pajak. Masyarakat, para pekerja yang bekerja, mereka seharusnya tidak membayar 30 persen pajak dari pendapatan mereka,” kata Jackson.

Burgess Owens Soroti Dampak bagi Piala Dunia

Anggota Kongres Burgess Owens juga sepakat bahwa potensi pajak sebesar 30 persen terlalu tinggi. Meski demikian, ia tetap menilai penyelenggaraan Piala Dunia di Amerika Serikat membawa dampak positif bagi perkembangan sepak bola.

Owens, yang merupakan mantan pemain NFL, mengaku turnamen tersebut membuatnya semakin menghargai sepak bola. Ia optimistis ajang itu dapat meningkatkan minat generasi muda terhadap olahraga tersebut.

“Saya sangat menghargai sepak bola sekarang. Saya pikir ini akan menjadi pendobrak bagi banyak anak-anak kita. Jadi, saya ingin mengucapkan selamat kepada presiden (Donald Trump) dan semua orang yang mewujudkan ini. Sayangnya, begitulah kenyataan di negara kita yang penuh pajak ini,” kata Owens.

Perdebatan mengenai pajak hadiah Piala Dunia 2026 pun menambah sorotan terhadap sistem perpajakan Amerika Serikat. Di tengah upaya negara tersebut menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga internasional, kebijakan fiskal terhadap atlet asing diperkirakan akan terus menjadi bahan pembahasan di ruang publik.

Berita Terkait

Gletser Dunia Mencair, Dampaknya Mulai Mengancam Kehidupan dan Ekosistem
Gletser Himalaya Runtuh, Banjir Dahsyat Tewaskan 160 Orang
Anna Bonus dan Misteri Kutukan yang Konon Bisa Membunuh dari Jarak Jauh
Liao Dan, “Penipu Paling Setia” di China: Menipu Demi Menyelamatkan Istri
Kabut Asap Karhutla Kalimantan Tutup 591 Sekolah di Sarawak
Gempa 7,1 Magnitudo Landa Kyushu, Jepang Sempat Keluarkan Peringatan Tsunami
Petisi Larangan Argentina di Piala Dunia
FIFA Pastikan Enam Negara Lolos Langsung ke Piala Dunia 2030
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:46 WIB

Gletser Dunia Mencair, Dampaknya Mulai Mengancam Kehidupan dan Ekosistem

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:25 WIB

Gletser Himalaya Runtuh, Banjir Dahsyat Tewaskan 160 Orang

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:15 WIB

Anna Bonus dan Misteri Kutukan yang Konon Bisa Membunuh dari Jarak Jauh

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:35 WIB

Liao Dan, “Penipu Paling Setia” di China: Menipu Demi Menyelamatkan Istri

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 22:03 WIB

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Tutup 591 Sekolah di Sarawak

Berita Terbaru

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker (Foto: Ilustrasi AI)

Kesehatan

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Selasa, 1 Sep 2026 - 21:36 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan (Foto: Ilustrasi AI)

Nasional

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Senin, 31 Agu 2026 - 19:23 WIB