Harga Kedelai Naik, Pengusaha Tempe Perkecil Ukuran Produk

- Jurnalis

Kamis, 4 Juni 2026 - 20:08 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Perajin tempe (Foto: Aai)

Ilustrasi. Perajin tempe (Foto: Aai)

Dengarkabar.com – Lonjakan harga bahan baku kedelai dan plastik kemasan memaksa para pengusaha tahu tempe memutar otak agar tidak gulung tikar. Salah satu siasat yang kini di ambil oleh perajin lokal di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, Banten, adalah dengan memperkecil ukuran produk tempe yang mereka pasarkan.

Langkah memperkecil ukuran cetakan ini menjadi pilihan realistis demi menghindari kerugian yang lebih besar. Para pelaku usaha mikro ini mengaku sulit menaikkan harga jual di tingkat konsumen karena khawatir akan memicu penurunan daya beli masyarakat.

Baca Juga :  Google Angkat Dangdut Lewat Tampilan Spesial di Halaman Utama

Selain memangkas dimensi produk, lonjakan biaya produksi ini juga berdampak langsung pada volume pembuatan tempe harian. Saat ini, kapasitas produksi di salah satu rumah usaha lokal di Serpong merosot tajam hingga menyentuh angka 50 persen.

Sebelum gelombang kenaikan harga melanda, para pekerja mampu mengolah sekitar 3 kuintal kedelai per hari. Kini, mereka hanya memproduksi sekitar 1,5 kuintal kedelai saja setiap harinya demi menyesuaikan modal kerja yang kian membengkak.

Baca Juga :  DPR Larang Daerah Memberhentikan PPPK Akibat Keterbatasan Anggaran

Kondisi dilematis ini menggambarkan tekanan berat yang sedang di hadapi sektor industri makanan skala rumahan. Para pengusaha sangat berharap ada intervensi dan kestabilan harga bahan baku dari pemerintah agar rantai usaha mereka bisa kembali berjalan normal. (Dk/*)

Berita Terkait

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan
Gletser Dunia Mencair, Dampaknya Mulai Mengancam Kehidupan dan Ekosistem
Karhutla Indonesia Capai 72.798 Hektare
Jempol Lebih Cepat dari Otak: Selamat Datang di Era Banjir Informasi
Sungai Barito Mengering seperti Gurun
Hotspot Karhutla di Tiga Provinsi Kalimantan Melonjak 4,75 Kali Lipat
Gletser Puncak Jaya Tinggal 2 Persen, Diperkirakan Hilang pada 2026-2027
Karhutla Riau Tembus 15.738 Hektare, Lahan Gambut Paling Banyak Terbakar
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 19:23 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:46 WIB

Gletser Dunia Mencair, Dampaknya Mulai Mengancam Kehidupan dan Ekosistem

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:15 WIB

Karhutla Indonesia Capai 72.798 Hektare

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Jempol Lebih Cepat dari Otak: Selamat Datang di Era Banjir Informasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:56 WIB

Sungai Barito Mengering seperti Gurun

Berita Terbaru

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker (Foto: Ilustrasi AI)

Kesehatan

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Selasa, 1 Sep 2026 - 21:36 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan (Foto: Ilustrasi AI)

Nasional

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Senin, 31 Agu 2026 - 19:23 WIB