Dengarkabar.com – Pemerintah mempercepat penyempurnaan buku pelajaran nasional untuk memperkuat kualitas pendidikan Indonesia. Langkah tersebut menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto setelah meninjau langsung berbagai buku yang digunakan peserta didik. Selain itu, pemerintah ingin memastikan setiap siswa memperoleh bahan ajar yang lebih nyaman, menarik, dan berkualitas.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa perhatian Presiden muncul saat mengunjungi sejumlah sekolah. Dalam kunjungan itu, Prabowo memeriksa setiap buku pelajaran secara langsung. Selanjutnya, Presiden menemukan beberapa kekurangan yang membutuhkan perbaikan segera. Karena itu, pemerintah mulai menyiapkan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh buku ajar.
Teddy menyampaikan bahwa Presiden menilai sebagian buku memakai bahan yang mudah rusak. Selain itu, beberapa buku sudah mengalami kerusakan meski masih digunakan siswa. Presiden juga melihat ukuran huruf terlalu kecil sehingga siswa sekolah dasar harus membaca dari jarak sangat dekat. Menurut Teddy, kondisi tersebut membuat kenyamanan belajar berkurang sehingga Presiden meminta evaluasi buku dari jenjang SD hingga SMA.
“Saat mengecek buku pelajaran, itu beliau lihat satu per satu, kemudian kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang sudah rusak juga, kemudian tulisannya kecil-kecil, sehingga anak-anak SD khususnya bacanya sangat dekat, kemudian ya kalau dibaca kurang baik. Sehingga atas dasar itu, beliau mau cek buku-buku dari SD sampai SMA semuanya,” kata Teddy kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan.
Setelah menelaah buku pelajaran dalam negeri, Presiden juga meminta pemerintah membandingkannya dengan buku ajar dari negara tetangga. Dengan demikian, pemerintah dapat memperoleh gambaran mengenai kualitas yang perlu ditingkatkan. Hasil perbandingan tersebut akan menjadi dasar penyempurnaan buku pelajaran nasional. Karena itu, proses evaluasi tidak hanya berfokus pada isi, tetapi juga kualitas keseluruhan buku.
“Awalnya yang punya kita dulu, dicek dulu semuanya, beliau lihat satu-satu. Kemudian coba dibandingkan ke negara tetangga. Pada awalnya seperti itu, sehingga yang tadi Pak Mensesneg sampaikan, dicek, nanti intinya akan diperbaiki menjadi lebih baik,” ungkap Teddy.
Fokus pada Karakter, Sains, dan Bahasa Asing
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa Presiden memberi perhatian terhadap beberapa aspek penting dalam pendidikan. Pertama, pemerintah ingin memperkuat pembentukan karakter kebangsaan sejak dini. Selanjutnya, pemerintah berupaya meningkatkan kemampuan siswa di bidang sains dan teknologi. Selain itu, Presiden juga menilai penguasaan bahasa asing sangat penting untuk menghadapi persaingan global.
Menurut Prasetyo, matematika menjadi salah satu fondasi utama dalam pengembangan sains dan teknologi. Sementara itu, kemampuan berbahasa Inggris juga menjadi perhatian khusus pemerintah. Oleh sebab itu, peningkatan kualitas pembelajaran pada dua bidang tersebut akan menjadi bagian dari pembaruan pendidikan nasional.
“Kedua, mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi, basic-nya adalah salah satu contohnya adalah matematika. Yang ketiga, untuk menghadapi kompetisi global, salah satu concern beliau adalah kemampuan bahasa asing, salah satunya adalah bahasa Inggris,” kata Pras.
Tampilan Buku Juga Menjadi Prioritas
Pemerintah tidak hanya memperbaiki materi pembelajaran. Sebaliknya, pemerintah juga ingin meningkatkan kualitas fisik buku pelajaran agar lebih tahan lama. Presiden menginginkan ukuran huruf lebih besar sehingga siswa lebih nyaman membaca. Selain itu, desain buku harus lebih menarik agar mampu meningkatkan minat belajar.
Prasetyo menambahkan bahwa pemerintah juga akan memilih bahan yang lebih berkualitas. Dengan begitu, buku pelajaran dapat bertahan lebih lama dan tetap layak digunakan. Bahkan, buku tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan kembali oleh adik kelas sehingga penggunaannya menjadi lebih efisien.
“Kalau tampilan tadi sudah kami jelaskan, penginnya besar, menarik, tulisan tidak kecil-kecil, bahannya pun juga yang bagus supaya itu bisa bertahan dalam sekian waktu. Mungkin kadang-kadang, dulu kan ada yang buku ini tidak dimiliki pribadi dan kemudian bisa diwariskan atau dipakai oleh adik kelasnya,” jelasnya.
Budaya Membaca Kembali Didorong
Prasetyo juga mengungkapkan bahwa perhatian Presiden terhadap pendidikan berakar dari kebiasaan membaca sejak kecil. Keluarga Prabowo membiasakan setiap anak membaca beberapa buku setiap pekan. Setelah itu, mereka membuat rangkuman dan mempresentasikan hasil bacaan kepada orang tua. Kebiasaan tersebut membentuk budaya belajar yang konsisten.
Karena itu, pemerintah telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk menghidupkan kembali budaya membaca. Pemerintah berharap kebiasaan membaca dapat berkembang di sekolah maupun lingkungan keluarga. Dengan langkah tersebut, pemerintah ingin meningkatkan kualitas literasi generasi muda Indonesia secara berkelanjutan.
“Sejak usia belia, keluarga Pak Mitro selalu mewajibkan putra-putrinya untuk setiap minggu membaca sekian buku, kemudian membuat rangkuman dan disampaikan kepada orang tua. Itu adalah juga cara mendidik yang kami juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dikdasmen untuk itu juga mulai kita galakan lagi, mulai kita giatkan lagi, gemar membaca buku dan wajib membaca buku bagi kita semua,” ujar Pras.
(LN/*) Dengarkabar.com











Komentar