Profesi Bergaji Tinggi Kini Terancam PHK

- Jurnalis

Jumat, 7 Agustus 2026 - 22:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Profesi Bergaji Tinggi Kini Terancam PHK (Foto: ilustrasi AI)

Profesi Bergaji Tinggi Kini Terancam PHK (Foto: ilustrasi AI)

Dengarkabar.com melaporkan perubahan besar terus mengguncang pasar tenaga kerja global. Sejumlah profesi bergaji tinggi kini menghadapi ancaman kehilangan pekerjaan. Padahal, banyak orang dahulu menganggap profesi tersebut sangat menjanjikan. Namun, perubahan ekonomi global mengubah peta karier secara signifikan.

Gelombang pemutusan hubungan kerja terus meningkat di berbagai sektor. Awalnya, banyak perusahaan hanya menjalankan efisiensi sementara. Akan tetapi, kebijakan tersebut berkembang menjadi restrukturisasi jangka panjang. Karena itu, banyak pekerja berpenghasilan tinggi ikut merasakan dampaknya.

Sektor Teknologi Paling Tertekan

Industri teknologi, jasa keuangan, dan konsultan bisnis menghadapi tekanan paling besar. Perusahaan terus menekan biaya operasional demi menjaga kinerja keuangan. Selain itu, mereka juga mempercepat langkah efisiensi di berbagai divisi. Akibatnya, ribuan posisi kerja menghilang dalam waktu singkat.

Bidang teknologi lain, termasuk telekomunikasi dan pengolahan data, turut mengalami penurunan lapangan kerja. Total pengurangan mencapai 11 persen atau sekitar 342 ribu pekerjaan. Puncak penurunan tersebut terjadi pada November 2022. Sejak saat itu, perusahaan terus menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja.

Era pendanaan besar dengan strategi bakar uang kini berakhir. Perusahaan tidak lagi berlomba menawarkan gaji tinggi dan opsi saham. Sementara itu, kebijakan moneter global serta suku bunga tinggi memperlambat aliran modal ventura. Karena kondisi tersebut, banyak startup hingga perusahaan teknologi besar memangkas biaya secara agresif.

Baca Juga :  Indonesia Jajaki Kerja Sama Kesehatan dengan Negara BRICS

Langkah efisiensi justru lebih dahulu menyasar pekerja bergaji tinggi. Perusahaan memilih strategi tersebut demi menjaga neraca keuangan. Selain itu, beban biaya tenaga kerja menjadi perhatian utama. Oleh sebab itu, banyak profesional senior kehilangan pekerjaannya.

Sektor perbankan investasi dan konsultan manajemen juga mengalami tekanan serupa. Aktivitas merger, akuisisi, dan penawaran saham perdana terus menurun secara global. Kondisi itu mengurangi kebutuhan terhadap analis dengan pendapatan tinggi. Akibatnya, peluang kerja pada sektor tersebut ikut menyusut.

AI Mengubah Kebutuhan Tenaga Kerja

Percepatan adopsi kecerdasan buatan generatif mempercepat perubahan pasar kerja. Kini, AI tidak hanya menangani pekerjaan sederhana. Sebaliknya, teknologi tersebut mulai mengerjakan tugas profesional berketerampilan tinggi. Dampaknya, perusahaan semakin mengurangi kebutuhan tenaga kerja tertentu.

AI kini mampu mengerjakan analisis hukum, pemrograman tingkat dasar hingga menengah, riset pasar, dan pekerjaan keuangan. Selain lebih cepat, teknologi tersebut juga menawarkan biaya operasional lebih rendah. Karena alasan itu, banyak perusahaan mulai mengintegrasikan AI dalam operasional mereka. Selanjutnya, kebutuhan tenaga kerja ikut berkurang.

Banyak perusahaan menyadari AI mampu menjaga produktivitas meski jumlah tim berkurang. Bahkan, beberapa perusahaan dapat memangkas jumlah pekerja hingga separuhnya. Kondisi tersebut menciptakan surplus tenaga kerja profesional. Akibatnya, jumlah pelamar berkualifikasi tinggi jauh melampaui lowongan yang tersedia.

Baca Juga :  Jadwal MSC 2026 Mobile Legends di EWC 2026 Resmi Dirilis, Grand Final Digelar 1 Agustus

Kepala Eksekutif Janco, Victor Janulaitis, menjelaskan alasan perusahaan mengurangi perekrutan tenaga IT. Menurutnya, inflasi dan ketidakpastian ekonomi membuat perusahaan lebih berhati-hati. Ia kemudian mengatakan, “Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI untuk sesuatu yang mungkin tidak menghasilkan?” Pernyataan tersebut dikutip dari Wall Street Journal.

Dampak Finansial bagi Profesional

Fenomena pengangguran pada pekerja bergaji tinggi memunculkan dampak finansial yang cukup besar. Kelompok profesional umumnya memiliki pengeluaran sesuai pendapatan sebelumnya. Mereka sering menanggung cicilan hunian premium, kendaraan mewah, dan biaya sekolah internasional. Karena itu, kehilangan pekerjaan menjadi tekanan yang sangat berat.

Banyak profesional mengalami lifestyle inflation shock setelah kehilangan penghasilan. Mereka kesulitan menyesuaikan gaya hidup dalam waktu singkat. Sementara itu, tabungan terus berkurang untuk menutup kebutuhan bulanan. Kondisi tersebut memperbesar tekanan finansial keluarga.

Di sisi lain, proses mencari pekerjaan baru berlangsung lebih lama. Perusahaan yang menjalankan efisiensi cenderung menghindari kandidat dengan status overqualified. Mereka khawatir kandidat tersebut memiliki ekspektasi gaji terlalu tinggi. Akibatnya, banyak profesional harus menunggu lebih lama untuk kembali bekerja.

Para pengamat ketenagakerjaan menilai profesional harus segera meningkatkan keterampilan. Selain itu, mereka juga perlu mempelajari kemampuan baru yang sesuai kebutuhan industri. Bahkan, sebagian profesional harus menerima penurunan ekspektasi gaji agar kembali masuk pasar kerja. (LN/*)

Berita Terkait

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan
Gletser Dunia Mencair, Dampaknya Mulai Mengancam Kehidupan dan Ekosistem
Karhutla Indonesia Capai 72.798 Hektare
Jempol Lebih Cepat dari Otak: Selamat Datang di Era Banjir Informasi
Sungai Barito Mengering seperti Gurun
Hotspot Karhutla di Tiga Provinsi Kalimantan Melonjak 4,75 Kali Lipat
Gletser Puncak Jaya Tinggal 2 Persen, Diperkirakan Hilang pada 2026-2027
Karhutla Riau Tembus 15.738 Hektare, Lahan Gambut Paling Banyak Terbakar
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 19:23 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:46 WIB

Gletser Dunia Mencair, Dampaknya Mulai Mengancam Kehidupan dan Ekosistem

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:15 WIB

Karhutla Indonesia Capai 72.798 Hektare

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Jempol Lebih Cepat dari Otak: Selamat Datang di Era Banjir Informasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:56 WIB

Sungai Barito Mengering seperti Gurun

Berita Terbaru

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker (Foto: Ilustrasi AI)

Kesehatan

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Selasa, 1 Sep 2026 - 21:36 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan (Foto: Ilustrasi AI)

Nasional

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Senin, 31 Agu 2026 - 19:23 WIB