Sampah Antariksa Jadi Ladang Bisnis Baru Bernilai Rp144 Triliun

- Jurnalis

Jumat, 10 Juli 2026 - 19:12 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sampah Antariksa Jadi Ladang Bisnis Baru Bernilai Rp144 Triliun (foto: Ilustrasi Ai)

Sampah Antariksa Jadi Ladang Bisnis Baru Bernilai Rp144 Triliun (foto: Ilustrasi Ai)

Dengarkabar.com – Perlombaan industri antariksa kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya fokus tertuju pada misi ke Bulan, Mars, atau pembangunan stasiun luar angkasa, kini berbagai perusahaan mulai bersaing mengembangkan teknologi pembersihan sampah antariksa. Peluang bisnis ini diperkirakan memiliki nilai hingga USD 8 miliar atau sekitar Rp144 triliun.

Munculnya industri baru tersebut didorong oleh meningkatnya jumlah satelit yang mengelilingi Bumi. Kondisi itu membuat orbit semakin padat dan meningkatkan risiko tabrakan dengan jutaan serpihan benda buatan manusia yang masih melayang di luar angkasa.

Orbit Bumi Dipenuhi Jutaan Serpihan

Data NASA menunjukkan terdapat lebih dari 100 juta serpihan sampah antariksa berukuran di atas 1 milimeter yang mengorbit Bumi. Total bobot seluruh sampah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 6.000 ton.

Meski ukurannya sangat kecil, serpihan itu tetap berbahaya. Bahkan pecahan cat dapat merusak satelit karena melaju dengan kecepatan lebih dari 27.000 kilometer per jam.

Pendiri sekaligus CEO Cosmoserve Space, Dr. Chiranjeevi Phanindra, mengatakan aktivitas peluncuran satelit terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

“Selama tujuh dekade terakhir kita telah meluncurkan sekitar 20.000 objek ke luar angkasa. Kini kita berbicara tentang kemungkinan meluncurkan hingga satu juta satelit hanya dalam 10 tahun ke depan,” ujar Phanindra seperti dikutip New York Post, Jumat (10/7/2026).

Baca Juga :  Usai Hiatus 1 Tahun 4 Bulan, Kim Soo Hyun Mulai Aktif Lagi di Industri Hiburan

Aturan Baru Membuka Peluang Industri

Selama ini, pemerintah menjadi pihak yang paling aktif menangani persoalan sampah antariksa. Namun, mulai 2027, peluang tersebut juga terbuka lebar bagi perusahaan swasta.

Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat akan mewajibkan setiap operator satelit mengeluarkan satelit yang sudah tidak beroperasi dari orbit rendah Bumi paling lambat lima tahun setelah masa operasinya berakhir. Aturan baru itu menggantikan pedoman sebelumnya yang memberikan batas waktu hingga 25 tahun.

Kebijakan tersebut diperkirakan mendorong permintaan terhadap layanan pembersihan orbit. Phanindra menilai nilai pasar industri ini dapat mencapai sekitar USD 8 miliar atau setara Rp144 triliun.

Beragam Teknologi Mulai Dikembangkan

Setiap perusahaan menawarkan pendekatan berbeda untuk membersihkan orbit Bumi.

Cosmoserve Space mengembangkan lengan robot lunak yang bekerja menyerupai tanaman Venus flytrap. Teknologi itu menjepit sampah antariksa, kemudian memindahkannya keluar dari orbit.

Di sisi lain, KMI merancang sistem yang mampu menangkap berbagai objek di luar angkasa tanpa memerlukan adaptor khusus. Perusahaan tersebut bahkan telah mendemonstrasikan teknologinya di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Selain kedua metode tersebut, sejumlah perusahaan lain juga mengembangkan jaring berukuran besar untuk menangkap sampah antariksa. Ada pula teknologi yang memanfaatkan semburan gas guna memperlambat kecepatan objek sehingga kembali memasuki atmosfer Bumi dan terbakar.

Baca Juga :  NotebookLM Resmi Berganti Nama Menjadi Gemini Notebook

Tak Hanya Membersihkan, tetapi Membangun Ekonomi Antariksa

Pendiri KMI, Adam Kall, menilai teknologi penangkap satelit memiliki manfaat yang jauh lebih luas dibanding sekadar membersihkan orbit.

“Ketika kami berbicara tentang pembersihan sampah, sebenarnya kami sedang membicarakan logistik di luar angkasa,” kata Kall.

Menurutnya, teknologi tersebut nantinya dapat memindahkan satelit yang masih aktif menuju orbit baru. Sistem yang sama juga berpotensi mengirim material ke pabrik di luar angkasa serta mendukung pembangunan berbagai infrastruktur di orbit.

“Saya pikir masa depan ada pada konstruksi di luar angkasa. Jika kita bisa meluncurkan tiga bagian pesawat antariksa lalu menyatukannya di orbit, kita akan memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya,” ujarnya.

Menjadi Fondasi Industri Antariksa Masa Depan

Pertumbuhan jumlah satelit membuat kebutuhan menjaga keamanan orbit Bumi semakin mendesak. Karena itu, teknologi pembersihan sampah antariksa diperkirakan berkembang menjadi salah satu fondasi utama ekonomi antariksa di masa depan.

Perusahaan yang lebih dulu menguasai teknologi tersebut berpeluang memimpin pasar sekaligus mendukung pengembangan berbagai aktivitas komersial di luar angkasa, mulai dari pengelolaan satelit hingga pembangunan infrastruktur orbital.

Berita Terkait

Jempol Lebih Cepat dari Otak: Selamat Datang di Era Banjir Informasi
Profesi Bergaji Tinggi Kini Terancam PHK
Revisi UU Hak Cipta Bakal Atur AI dan Kompensasi bagi Penerbit Berita
NotebookLM Resmi Berganti Nama Menjadi Gemini Notebook
SpaceX Musnahkan 260 Satelit Starlink dalam Enam Bulan
Microsoft Hentikan Dukungan Office 2021 pada Oktober 2026, Ini Alternatifnya
Cara Melacak Lokasi Lewat WhatsApp dan Google Maps, Simak Langkah Lengkapnya
Elon Musk Prediksi Uang Akan Digantikan Massa dan Energi
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Jempol Lebih Cepat dari Otak: Selamat Datang di Era Banjir Informasi

Jumat, 7 Agustus 2026 - 22:10 WIB

Profesi Bergaji Tinggi Kini Terancam PHK

Sabtu, 25 Juli 2026 - 19:02 WIB

Revisi UU Hak Cipta Bakal Atur AI dan Kompensasi bagi Penerbit Berita

Rabu, 22 Juli 2026 - 21:12 WIB

NotebookLM Resmi Berganti Nama Menjadi Gemini Notebook

Jumat, 10 Juli 2026 - 19:12 WIB

Sampah Antariksa Jadi Ladang Bisnis Baru Bernilai Rp144 Triliun

Berita Terbaru

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker (Foto: Ilustrasi AI)

Kesehatan

Mager dan Terlalu Lama Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Selasa, 1 Sep 2026 - 21:36 WIB

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan (Foto: Ilustrasi AI)

Nasional

Desil Bansos Tak Sesuai Kondisi? Warga Bisa Ajukan Sanggahan

Senin, 31 Agu 2026 - 19:23 WIB