Dengarkabar.com – Masjid Ibrahimi di Kota Tua Hebron, Tepi Barat, kembali menjadi perhatian dunia internasional setelah muncul kebijakan terbaru Israel yang mengambil alih kendali atas kawasan tersebut. Langkah ini memicu kekhawatiran berbagai pihak karena dinilai berpotensi memperburuk ketegangan yang telah berlangsung selama puluhan tahun di salah satu situs keagamaan paling sensitif di Palestina.
Situs bersejarah ini memiliki nilai penting bagi tiga agama besar dunia, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi. Selama berabad-abad, Masjid Ibrahimi dipercaya sebagai tempat peristirahatan Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Yaqub, serta para istri mereka. Karena nilai spiritual dan historisnya yang tinggi, setiap perubahan kebijakan terkait pengelolaan kawasan tersebut kerap menjadi sorotan internasional.
Polemik terbaru mencuat setelah Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, pada Selasa (16/6/2026) mengumumkan penghapusan sejumlah ketentuan dalam Perjanjian Hebron 1997. Berdasarkan perjanjian tersebut, Dewan Kota Palestina di Hebron sebelumnya memiliki kewenangan dalam urusan perencanaan, zonasi, dan pembangunan di wilayah H2, Tepi Barat.
Sejumlah pengamat menilai kebijakan tersebut berisiko meningkatkan ketegangan di Hebron yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah paling sensitif di Tepi Barat. Untuk memahami pentingnya situs ini, berikut sejumlah fakta sejarah mengenai Masjid Ibrahimi.
Berawal dari Basilika Kristen
Masjid Ibrahimi memiliki sejarah yang panjang dan kompleks. Pada awalnya, bangunan ini didirikan sebagai basilika Kristen pada masa Kekaisaran Bizantium.
Ketika wilayah tersebut berada di bawah pemerintahan Islam pada abad ke-7, fungsi bangunan kemudian diubah menjadi masjid. Namun, perubahan kekuasaan yang terjadi selama Perang Salib membuat fungsi situs tersebut kembali berganti sebelum akhirnya digunakan sebagai masjid hingga sekarang.
Situasi mulai berubah secara signifikan setelah tahun 1967 ketika Israel menguasai Tepi Barat dan Jalur Gaza. Sejak saat itu, pengelolaan serta akses ke kawasan suci tersebut menjadi salah satu sumber ketegangan yang terus berlangsung.
Tragedi Berdarah Tahun 1994
Salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Masjid Ibrahimi terjadi pada 25 Februari 1994, bertepatan dengan hari ke-15 Ramadan.
Saat sekitar 800 jemaah Palestina melaksanakan salat Subuh, seorang pemukim Israel dari Kiryat Arba memasuki area masjid dan melepaskan tembakan ke arah jemaah. Serangan tersebut menewaskan 29 orang dan menyebabkan lebih dari 125 lainnya mengalami luka-luka.
Peristiwa itu kemudian menjadi titik balik dalam sejarah Masjid Ibrahimi. Aktivitas ibadah di kawasan tersebut sempat dihentikan selama sembilan bulan. Selama periode itu, azan tidak berkumandang dan salat berjamaah tidak dilaksanakan sebagaimana biasanya.
Hingga kini, tragedi tersebut masih dikenang sebagai salah satu serangan paling mematikan yang menimpa warga Palestina di tempat ibadah.
Pembagian Area untuk Dua Komunitas
Pasca-insiden 1994, Israel menerapkan pembagian area di dalam kompleks Masjid Ibrahimi. Kebijakan tersebut membagi kawasan menjadi dua bagian dengan proporsi yang berbeda.
Sekitar dua pertiga area diperuntukkan bagi umat Yahudi, sementara sepertiga lainnya digunakan oleh umat Islam. Pengaturan akses juga diterapkan pada hari-hari besar keagamaan masing-masing komunitas.
Umat Yahudi memperoleh akses penuh ke seluruh area selama 10 hari perayaan keagamaan setiap tahun. Sebaliknya, umat Islam tidak diperkenankan memasuki kawasan tersebut pada periode tersebut.
Di sisi lain, umat Islam juga mendapatkan kesempatan mengakses seluruh area selama 10 hari pada hari raya Islam. Namun, pelaksanaan aturan tersebut disebut tidak selalu berjalan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.
Selain pembagian area, berbagai pembatasan tambahan juga diberlakukan. Azan Magrib dibatasi setiap hari dan aturan yang lebih ketat diterapkan pada hari Sabtu. Muazin bahkan diwajibkan mendapatkan pengawalan militer sebelum mengumandangkan azan.
Berbagai pembatasan terhadap akses ibadah warga Palestina masih berlangsung hingga saat ini. Kondisi tersebut turut memperkuat citra Hebron sebagai salah satu kota dengan tingkat ketegangan tertinggi di Tepi Barat.
Menyimpan Mimbar Bersejarah Era Salahuddin
Masjid Ibrahimi juga memiliki peninggalan bersejarah yang bernilai tinggi bagi peradaban Islam. Salah satunya adalah Al-Minbar, mimbar kayu yang dikenal sebagai salah satu mimbar tertua dalam sejarah Islam.
Mimbar tersebut dibuat pada abad ke-11 di Asqalan atau Ashkelon. Pada tahun 1191, Salahuddin Ayyubi memindahkannya ke Masjid Ibrahimi dan menempatkannya di sisi kanan mihrab.
Keberadaan Al-Minbar menjadi salah satu bukti penting perjalanan panjang sejarah Islam di kawasan Palestina.
Diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO
Nilai sejarah dan budaya Kota Tua Hebron mendapat pengakuan internasional pada 7 Juli 2017. Melalui kerja sama Pemerintah Kota Hebron, Hebron Rehabilitation Committee (HRC), serta Kementerian Pariwisata dan Purbakala Palestina, kawasan tersebut resmi ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.
Penetapan tersebut disertai status terancam, yang menunjukkan adanya risiko terhadap kelestarian kawasan akibat berbagai kondisi yang berlangsung di wilayah tersebut.
Dengan sejarah lintas peradaban, nilai spiritual yang tinggi, serta posisi strategis dalam konflik Palestina-Israel, Masjid Ibrahimi tidak hanya menjadi tempat ibadah. Situs ini juga menjadi simbol penting yang mencerminkan kompleksitas sejarah, identitas, dan dinamika politik di kawasan Timur Tengah hingga saat ini. (LLN/*)











Komentar