Dengarkabar.com – Menyoroti tantangan lulusan sarjana memasuki dunia kerja. Ijazah S1 ternyata belum selalu menjadi tiket menuju pekerjaan yang sesuai. Berdasarkan kajian terbaru, sejumlah bidang studi masih menghadapi angka pengangguran yang cukup besar.
Data tersebut tercantum dalam Labor Market Brief Volume 7: Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?. LPEM FEB UI menerbitkan publikasi tersebut pada 7 Juli 2026. Laporan itu menggunakan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2025.
Lima Jurusan Dominasi Pengangguran
LPEM FEB UI mencatat manajemen menyumbang 10,3 persen dari total pengangguran lulusan minimal sarjana. Selanjutnya, hukum menyumbang 9 persen dari keseluruhan pengangguran tersebut. Kemudian, ekonomi menyumbang 8,7 persen dan pendidikan mencapai 7,1 persen.
Akuntansi juga masuk dalam daftar tersebut dengan kontribusi sebesar 5,1 persen. Dengan demikian, lima bidang studi itu menyumbang sekitar 40 persen pengangguran lulusan minimal sarjana. Angka tersebut menunjukkan besarnya persaingan lulusan dari bidang studi dengan jumlah mahasiswa yang relatif besar.
LPEM FEB UI merupakan pusat penelitian ekonomi dan sosial di bawah FEB UI. Lembaga tersebut berdiri pada 1953 melalui Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. Selain riset, LPEM FEB UI menjalankan konsultasi dan pelatihan untuk mendukung pembangunan nasional.
Lulusan Digital Juga Menghadapi Tantangan
Bidang ilmu komputer dan informatika turut menjadi perhatian dalam laporan tersebut. Bidang ini menyumbang 4,6 persen dari pengangguran lulusan minimal sarjana. Padahal, banyak pihak menilai sektor digital memiliki peluang kerja yang kuat.
“Temuan ini menarik karena bidang digital sering dipandang mempunyai prospek kerja yang kuat. Namun, meningkatnya kebutuhan terhadap keterampilan digital tidak berarti semua lulusan langsung terserap,” tulis laporan tersebut.
Menurut laporan itu, kebutuhan pasar kerja tidak hanya bergantung pada ijazah atau bidang studi. Keterampilan, kemampuan praktis, serta pengalaman kerja turut memengaruhi peluang seseorang mendapat pekerjaan. Karena itu, lulusan dengan latar pendidikan serupa belum tentu menghadapi peluang kerja yang sama.
Secara umum, LPEM FEB UI menemukan pengangguran sarjana berasal dari bidang studi dengan cakupan luas. Banyak perguruan tinggi membuka program studi tersebut dan menerima mahasiswa dalam jumlah besar. Akibatnya, lulusan dari bidang tersebut menghadapi persaingan yang lebih ketat ketika memasuki pasar kerja.
Bidang bisnis dan hukum juga menghadapi persaingan untuk posisi entry-level. Lulusan dari kedua bidang tersebut bersaing dengan berbagai jurusan lain untuk pekerjaan awal. Sementara itu, bidang pendidikan menghadapi pola rekrutmen serta kebutuhan guru yang berbeda antarwilayah.
TPT Sarjana Naik pada 2025
Laporan yang sama mencatat tingkat pengangguran terbuka atau TPT lulusan minimal sarjana meningkat pada 2025. Angkanya mencapai 5,39 persen, sedangkan tahun sebelumnya berada pada level 5,25 persen. Padahal, TPT sempat mengalami penurunan pada 2021.
TPT menunjukkan persentase pengangguran dibandingkan seluruh angkatan kerja. Badan Pusat Statistik atau BPS merilis indikator tersebut secara berkala. Pemerintah menggunakan data itu untuk melihat bagian tenaga kerja yang belum terserap pasar.
LPEM FEB UI menyebut kenaikan TPT sebesar 0,59 persen sepanjang 2022 hingga 2025 belum menunjukkan krisis. Namun, angka tersebut memberi sinyal bahwa pemulihan pasar kerja pascapandemi belum berlanjut bagi lulusan pendidikan tinggi. Kondisi itu menunjukkan tantangan baru bagi pencari kerja berpendidikan tinggi.
Menurut laporan tersebut, beberapa faktor dapat mendorong kenaikan TPT lulusan sarjana. Pertama, jumlah lulusan terus bertambah setiap tahun. Selain itu, proses pencarian kerja yang panjang, ekspektasi upah, serta ketidaksesuaian bidang studi turut memengaruhi kondisi tersebut.
Maluku Catat TPT Sarjana Tertinggi
Kondisi pengangguran lulusan minimal sarjana juga berbeda antarprovinsi. LPEM FEB UI mencatat TPT sarjana berada dalam rentang 1,79 persen hingga 7,85 persen. Maluku mencatat angka tertinggi dengan TPT mencapai 7,85 persen.
Sulawesi Utara kemudian berada pada posisi berikutnya dengan angka 7,52 persen. Sumatera Barat dan Kepulauan Bangka Belitung sama-sama mencatat 7,47 persen. Selanjutnya, Sumatera Utara mencapai 6,66 persen dan Papua sebesar 6,60 persen.
Sebaliknya, Bali dan Papua Pegunungan mencatat TPT terendah. Kedua wilayah tersebut masing-masing berada pada angka sekitar 1,79 persen. Setelah itu, Jawa Timur mencapai 3,34 persen, Nusa Tenggara Barat 3,46 persen, dan Riau 3,47 persen.
Jakarta juga mencatat TPT lulusan minimal sarjana sebesar 5,91 persen. Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional yang mencapai 5,39 persen. Menurut laporan, persaingan kerja perkotaan yang ketat turut berkaitan dengan tingginya ekspektasi terhadap pekerjaan.
Jutaan Sarjana Bekerja di Bawah Kualifikasi
LPEM FEB UI juga menemukan persoalan lain setelah lulusan memperoleh pekerjaan. Sebagian lulusan minimal sarjana justru bekerja pada posisi di bawah tingkat pendidikannya. Kondisi tersebut dikenal sebagai pekerja overeducated.
Sebaliknya, laporan menggunakan istilah matched untuk pekerja yang sesuai tingkat pendidikannya. Kategori tersebut mencakup pekerja pada Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia atau KBJI 1 dan 2. KBJI 1 mencakup jabatan manajerial, sedangkan KBJI 2 mencakup tenaga profesional.
Sementara itu, pekerja sarjana yang masuk kategori overeducated berada pada KBJI 3 hingga 9. Jumlahnya mencapai 8,01 juta pekerja. Kelompok terbesar berada pada KBJI 4 dan KBJI 5.
KBJI 4 mencakup tenaga tata usaha, sedangkan KBJI 5 mencakup tenaga usaha jasa dan penjualan. Laporan menilai pekerjaan administrasi tersedia dalam banyak sektor. Karena itu, posisi tersebut sering menjadi pintu masuk bagi lulusan baru.
Selain itu, fenomena inflasi kualifikasi ikut memengaruhi kondisi tersebut. Perusahaan dapat menjadikan gelar S1 sebagai syarat rekrutmen meski beban pekerjaannya tidak bertambah. Akibatnya, lulusan pendidikan tinggi dapat mengisi pekerjaan yang sebelumnya tidak membutuhkan gelar sarjana.
“Secara keseluruhan, tenaga tata usaha serta tenaga jasa dan penjualan mencakup lebih dari 60% lulusan S1 yang dikategorikan overeducated. Pola ini menunjukkan bahwa penyerapan sarjana ke atas masih banyak berlangsung melalui pekerjaan administratif dan pelayanan. Dengan struktur seperti ini, menambah kapasitas pendidikan tinggi tanpa memperluas pekerjaan profesional berisiko meningkatkan jumlah lulusan lebih cepat daripada perubahan komposisi pekerjaan,” tulis laporan LPEM FEB UI.
LPEM FEB UI juga menjelaskan alasan tingginya lulusan sarjana pada KBJI 5. Bidang tersebut banyak menawarkan pekerjaan pada tahap awal karier. Karena itu, sebagian lulusan mungkin menggunakan pekerjaan tersebut sebelum mencari posisi yang lebih sesuai.
Pada akhirnya, kondisi tersebut menunjukkan perubahan struktur kesempatan kerja. Lapangan kerja pelayanan dan penjualan dapat tumbuh lebih cepat daripada pekerjaan profesional. Karena itu, pertumbuhan pendidikan tinggi perlu berjalan seiring dengan perluasan pekerjaan yang sesuai kualifikasi lulusan. (LN/*) Dengarkabar.com











Komentar