RTX Spark vs Snapdragon X2 Elite, Perebutan Tahta Laptop ARM Windows Dimulai

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026 - 19:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

RTX Spark vs Snapdragon X2 Elite, Perebutan Tahta Laptop ARM Windows Dimulai ( Foto : Qualcomm, Nvidia)

RTX Spark vs Snapdragon X2 Elite, Perebutan Tahta Laptop ARM Windows Dimulai ( Foto : Qualcomm, Nvidia)

Dengarkabar.com – Pasar laptop Windows tengah memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun bergantung pada prosesor berbasis x86 dari Intel dan AMD, industri kini mulai mengadopsi arsitektur ARM yang menawarkan efisiensi daya lebih baik, kemampuan AI yang semakin canggih, serta daya tahan baterai yang lebih panjang.

Selama hampir dua tahun terakhir, Qualcomm menjadi pemain utama yang serius mengembangkan ekosistem Windows on ARM melalui lini Snapdragon X Elite. Kehadiran chipset tersebut pada 2024 bahkan dianggap sebagai langkah penting untuk menghadirkan pengalaman penggunaan yang mendekati Apple Silicon pada MacBook.

Namun, posisi Qualcomm kini menghadapi tantangan baru. Dalam ajang Computex 2026, Nvidia resmi memperkenalkan RTX Spark, chipset ARM generasi terbaru yang langsung menyita perhatian industri teknologi. Pengumuman tersebut bahkan sempat memicu penurunan saham Qualcomm lebih dari 10 persen pada perdagangan awal di Amerika Serikat.

Persaingan antara Snapdragon X2 Elite dan RTX Spark bukan sekadar adu kemampuan prosesor laptop. Keduanya menjadi representasi kompetisi baru di era komputasi berbasis kecerdasan buatan, gaming modern, serta produktivitas tinggi pada perangkat Windows berbasis ARM.

Snapdragon X2 Elite Tampil Lebih Matang

Qualcomm memperkenalkan seri Snapdragon X2 dalam ajang Snapdragon Summit pada September 2025 sebagai penerus Snapdragon X Elite generasi pertama yang meluncur setahun sebelumnya.

Chip terbaru ini diproduksi menggunakan proses fabrikasi 3 nanometer milik TSMC yang dikenal unggul dalam efisiensi energi sekaligus performa. Qualcomm juga membekali chipset ini dengan CPU Oryon generasi ketiga yang menawarkan peningkatan kinerja signifikan.

Varian tertingginya, Snapdragon X2 Elite Extreme dengan kode X2E-96-100, hadir membawa 18 inti CPU. Jumlah tersebut meningkat drastis dibanding generasi sebelumnya yang hanya mengusung 12 inti.

Konfigurasinya terdiri atas 12 Prime Core dengan kecepatan hingga 5 GHz serta enam Performance Core yang mampu mencapai 3,6 GHz. Chip ini juga dibekali total cache sebesar 53 MB.

Berdasarkan pengujian internal Qualcomm, performa Snapdragon X2 Elite mampu menyamai bahkan melampaui Apple M4 Pro dalam sejumlah benchmark CPU populer, termasuk Cinebench 2024 dan Geekbench 6.3.

Chip tersebut mencatat skor 1.964 poin pada Cinebench 2024 serta 23.693 poin pada pengujian multi-core Geekbench 6.3.

Capaian ini menunjukkan bahwa Qualcomm kini benar-benar serius bersaing di segmen laptop premium dan siap menantang pemain utama di pasar perangkat flagship.

Andalkan Kemampuan AI Lokal

Salah satu keunggulan utama Snapdragon X2 Elite terletak pada Neural Processing Unit (NPU) yang memiliki kemampuan pemrosesan AI hingga 80 TOPS.

Teknologi ini memungkinkan berbagai fitur kecerdasan buatan berjalan langsung di perangkat tanpa harus sepenuhnya mengandalkan layanan cloud. Kemampuan tersebut semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan AI generatif pada laptop modern.

Baca Juga :  Xiaomi Redmi Pad 2 9.7 Resmi Dijual di Indonesia, Harga Rp 2,3 Jutaan

Berbagai fungsi seperti penyuntingan gambar otomatis, penerjemahan real-time, hingga asisten berbasis Large Language Model (LLM) dapat dijalankan secara lokal dengan lebih efisien.

Selain itu, Snapdragon X2 Elite mendukung RAM LPDDR5x hingga 48 GB, penyimpanan PCIe 5.0, konektivitas USB 4.0, serta efisiensi daya yang mendukung masa pakai baterai lebih lama.

Sejumlah laptop berbasis chipset ini mulai dipasarkan sejak awal 2026, termasuk ASUS Zenbook A16. Di Indonesia, perangkat dengan Snapdragon X2 Elite diperkirakan tersedia pada semester pertama 2026 dengan kisaran harga Rp24 juta hingga Rp38 juta, bergantung pada konfigurasi.

RTX Spark, Senjata Baru Nvidia di Era ARM

Berbeda dengan Qualcomm yang berfokus pada efisiensi dan produktivitas, Nvidia hadir dengan pendekatan yang jauh lebih agresif melalui RTX Spark.

Chipset ini merupakan adaptasi dari GB10 Grace Blackwell Superchip yang sebelumnya digunakan pada workstation AI Nvidia DGX Spark. Kini, teknologi tersebut dikemas untuk kebutuhan laptop Windows sehari-hari.

RTX Spark mengintegrasikan tiga komponen utama dalam satu paket, yakni CPU ARM hasil kolaborasi Nvidia dan MediaTek, GPU Blackwell RTX, serta AI Accelerator generasi terbaru.

Dibangun menggunakan proses fabrikasi 3 nanometer TSMC, RTX Spark memiliki sekitar 70 miliar transistor yang menopang kemampuan komputasinya.

Spesifikasi RTX Spark Berorientasi Performa Tinggi

Nvidia tampaknya tidak ingin sekadar menjadi alternatif di pasar Windows ARM. RTX Spark hadir dengan spesifikasi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan komputasi berat.

Chip ini menawarkan hingga 20 inti CPU serta GPU Blackwell dengan 6.144 CUDA Core. Dukungan unified memory mencapai 128 GB dengan kemampuan pemrosesan AI lebih dari 1 petaflop FP4.

CPU dan GPU juga dihubungkan melalui teknologi NVLink-C2C yang menyediakan bandwidth hingga 600 GB per detik.

Dengan spesifikasi tersebut, RTX Spark ditujukan untuk berbagai kebutuhan intensif seperti rendering 3D, pengeditan video profesional, gaming AAA, pengembangan AI, hingga menjalankan Large Language Model secara lokal.

Nvidia turut membekali chip ini dengan teknologi DLSS 4.5 yang mampu meningkatkan performa gaming sekaligus kualitas visual melalui pemanfaatan AI. Hingga saat ini, Qualcomm belum memiliki solusi grafis dengan kemampuan serupa.

Performa Grafis Jadi Tantangan Qualcomm

Meski unggul dalam performa CPU, Snapdragon X2 Elite masih menghadapi tantangan pada sektor grafis.

Dalam benchmark 3DMark Steel Nomad, Snapdragon X2 Elite Extreme hanya mencatat skor 1.306 poin dengan performa sekitar 13 frame per detik. Bahkan, Apple M4 Pro dilaporkan mampu menghasilkan performa lebih tinggi dalam pengujian serupa.

Baca Juga :  Asus Pamer Ekosistem AI Terlengkap di Computex 2026

Sejumlah pengulas teknologi juga menemukan bahwa beberapa aplikasi profesional, seperti AutoCAD, belum berjalan optimal pada Windows ARM berbasis Snapdragon. Selain itu, sejumlah game masih mengalami gangguan grafis maupun crash saat dijalankan melalui lapisan emulasi x86 Microsoft Prism.

Kondisi ini menjadi peluang besar bagi Nvidia yang telah lama mendominasi industri GPU dan gaming.

CUDA Jadi Kelebihan Utama Nvidia

Keunggulan RTX Spark tidak hanya terletak pada spesifikasi perangkat keras, tetapi juga pada ekosistem perangkat lunak yang telah matang.

Nvidia membawa platform CUDA ke dalam RTX Spark. Selama lebih dari 15 tahun, CUDA telah menjadi standar industri untuk berbagai kebutuhan komputasi AI.

Beragam framework populer seperti TensorFlow, PyTorch, Stable Diffusion, hingga berbagai Large Language Model modern telah dioptimalkan untuk berjalan pada ekosistem CUDA.

Artinya, RTX Spark tidak hanya menawarkan performa tinggi, tetapi juga kompatibilitas yang lebih luas dengan berbagai aplikasi AI yang telah digunakan secara global.

Sementara itu, Qualcomm masih berada dalam tahap pengembangan untuk memperkuat stabilitas dan kompatibilitas ekosistem Windows ARM miliknya.

Mana yang Lebih Layak Dipilih?

Pilihan terbaik antara Snapdragon X2 Elite dan RTX Spark sangat bergantung pada kebutuhan pengguna.

Bagi pengguna yang membutuhkan laptop ARM Windows untuk produktivitas sehari-hari, multitasking, pekerjaan kantor, serta daya tahan baterai optimal, Snapdragon X2 Elite tetap menjadi opsi yang sangat kompetitif.

Sebaliknya, pengguna yang membutuhkan performa AI tingkat lanjut, kemampuan gaming modern, rendering profesional, dan dukungan ekosistem software yang matang kemungkinan akan lebih tertarik pada RTX Spark.

Nvidia tampaknya berupaya menciptakan versi “Apple Silicon untuk Windows” dengan menonjolkan kekuatan AI dan grafis yang belum pernah ditawarkan sebelumnya di segmen ARM.

Di sisi lain, Qualcomm tetap memiliki keunggulan dari sisi kematangan produk, ketersediaan perangkat di pasar, serta efisiensi penggunaan sehari-hari.

Persaingan Snapdragon X2 Elite dan RTX Spark menjadi salah satu duel teknologi paling menarik sepanjang 2026. Qualcomm telah membuktikan bahwa ARM bukan lagi sekadar eksperimen di ekosistem Windows. Kini, Nvidia hadir membawa tantangan baru melalui kombinasi GPU Blackwell, kemampuan AI mutakhir, serta ekosistem CUDA yang telah teruji.

Kompetisi ini berpotensi mengubah wajah laptop Windows generasi mendatang dan memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen di era komputasi berbasis AI. (LLN/*)

Berita Terkait

Bocoran iPhone 18 Pro Pakai Face ID di Bawah Layar
Harga dan Spesifikasi Oppo A55 5G Terbaru di Tahun 2026
ASUS ExpertBook Ultra 2026 Resmi Hadir, Laptop AI Premium untuk Profesional
Amazfit Cheetah 2 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Bidik Pelari Serius
Baseus PicoGo Air AM71 Resmi Meluncur, Usung Desain Setipis Kartu
3 Rekomendasi HP Gaming 3 Jutaan Terbaik untuk Push Rank Tanpa Ngelag
3 TWS Terbaik di Bawah Rp500 Ribu Pilihan GadgetIn 2026, Kualitas Audio Mumpuni
AI Bawa Tamagotchi ke Level Baru Lewat Sweeker dan Senso
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:04 WIB

Bocoran iPhone 18 Pro Pakai Face ID di Bawah Layar

Rabu, 17 Juni 2026 - 09:03 WIB

Harga dan Spesifikasi Oppo A55 5G Terbaru di Tahun 2026

Selasa, 16 Juni 2026 - 00:12 WIB

ASUS ExpertBook Ultra 2026 Resmi Hadir, Laptop AI Premium untuk Profesional

Senin, 15 Juni 2026 - 23:02 WIB

Amazfit Cheetah 2 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Bidik Pelari Serius

Senin, 15 Juni 2026 - 19:03 WIB

RTX Spark vs Snapdragon X2 Elite, Perebutan Tahta Laptop ARM Windows Dimulai

Berita Terbaru

Bocoran iPhone 18 Pro Pakai Face ID di Bawah Layar (Foto: ifixied)

Gadget

Bocoran iPhone 18 Pro Pakai Face ID di Bawah Layar

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:04 WIB

Update Honor of Kings Plus 2.0 Rilis, Ini Detailnya (Wd/*)

Game

Update Honor of Kings Plus 2.0 Rilis, Ini Detailnya

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:08 WIB

Laba BTN Meroket 54 Persen Jadi Rp1,85 Triliun Mei 2026 (Foto: BTN/medcom)

Finansial

Laba BTN Meroket 54 Persen Jadi Rp1,85 Triliun Mei 2026

Rabu, 17 Jun 2026 - 14:07 WIB