20.000 Pelaut Terjebak di Selat Hormuz Akibat Konflik Iran-AS

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 7 Juni 2026 - 15:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

20.000 Pelaut Terjebak di Selat Hormuz Akibat Konflik Iran-AS (Foto:Peranan,BBC World Service)

20.000 Pelaut Terjebak di Selat Hormuz Akibat Konflik Iran-AS (Foto:Peranan,BBC World Service)

Dengarkabar.com – Sekitar 20.000 pelaut dari berbagai negara masih terjebak di dalam dan sekitar Selat Hormuz setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan besar terhadap salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Penutupan akses oleh Iran sejak akhir Februari membuat ribuan awak kapal tidak dapat meninggalkan kawasan tersebut.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi global karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Namun, kawasan yang biasanya dipadati lalu lintas kapal kini berubah menjadi zona penuh ketidakpastian akibat ancaman rudal, ranjau laut, dan aktivitas militer yang terus berlangsung.

Hidup dalam Bayang-bayang Ancaman

Kapten Hassan Khan, pelaut asal Pakistan yang menggunakan nama samaran demi alasan keamanan, menggambarkan kondisi psikologis para awak kapal yang semakin memburuk.

“Benar-benar aneh bahwa segala sesuatu terlihat normal di luar, tetapi orang-orang di dalam tidak tenang,” ujarnya.

Menurut Khan, kecemasan terus menghantui seluruh awak kapal. Suara kecil sekalipun dapat memicu kepanikan, bahkan ketika mereka sedang beristirahat.

“Stres selalu ada di pikiran kami. Semua orang benar-benar kelelahan baik secara fisik maupun mental,” katanya.

Meski situasi mencekam, para pelaut tetap berupaya menjalankan rutinitas kerja seperti biasa. Namun, suasana yang sebelumnya dipenuhi canda kini berganti dengan keheningan dan kekhawatiran berkepanjangan.

Ribuan Kapal Tak Bisa Keluar dari Teluk

Organisasi Maritim Internasional (IMO) memperkirakan sekitar 1.600 kapal saat ini tertahan di kawasan Selat Hormuz. Iran menutup jalur tersebut beberapa hari setelah konflik pecah dan mewajibkan setiap kapal memperoleh persetujuan khusus untuk melintas.

Kapten Shafiqul Islam dari kapal Bangladesh Banglar Joyjatra menggambarkan situasi itu seperti terjebak di dalam kolam tanpa alternatif jalur keluar.

“Seolah-olah kami terjebak di sebuah kolam. Hanya ada satu jalan keluar, dan itu adalah Hormuz,” katanya.

Kapal Banglar Joyjatra yang mengangkut sekitar 37.000 ton pupuk menuju Afrika Selatan telah dua kali mencoba meninggalkan kawasan tersebut. Namun, kedua upaya itu gagal.

Setelah pengumuman gencatan senjata pada 8 April, Islam sempat mengetahui beberapa kapal memperoleh izin melintas dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Ia kemudian berlayar bersama empat kapal lainnya menuju selat tersebut.

Namun, mereka kembali diperingatkan agar tidak melanjutkan perjalanan.

Sembilan hari kemudian, Iran sempat menyatakan Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya bagi kapal komersial seiring gencatan senjata Israel-Lebanon. Akan tetapi, keputusan itu dibatalkan setelah Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Saat itu, kapal Banglar Joyjatra hanya berjarak sekitar 55 kilometer dari selat. Islam akhirnya memutuskan berbalik arah setelah menerima peringatan serangan melalui radio komunikasi.

Baca Juga :  Fenomena Bisnis Viral: Populer Sesaat, Sulit Bertahan Lama

Persediaan Menipis dan Harga Melonjak

Selain ancaman keamanan, para pelaut kini menghadapi masalah baru berupa keterbatasan pasokan makanan dan air bersih.

Sejumlah kapal memilih berlindung di pelabuhan lain atau berlabuh di lepas pantai Teluk demi keselamatan. Meski pasokan masih dapat diperoleh melalui layanan logistik di sekitar Dubai, Abu Dhabi, dan Kuwait, distribusinya menjadi semakin tidak menentu.

Kepala Kamar Mesin Banglar Joyjatra, Rashedul Hasan, mengungkapkan lonjakan tajam biaya pembelian air bersih.

“Kami membeli sekitar 180 ton air untuk kapal dua hari lalu. Sebelumnya biayanya antara US$1.500 dan US$2.000. Sekarang biayanya menjadi US$11.000,” ujarnya.

Seorang pelaut asal Korea Selatan yang enggan disebutkan namanya juga menilai sejumlah pemasok memanfaatkan situasi krisis untuk memperoleh keuntungan berlebih.

“Kami merasa beberapa pemasok makanan dan air mencoba mengambil keuntungan dari situasi ini,” katanya.

Kondisi ini diperkirakan semakin memburuk memasuki musim panas. Suhu di kawasan Teluk yang saat ini sudah melampaui 30 derajat Celsius diprediksi dapat mencapai 45 derajat Celsius.

Khan mengaku awak kapalnya masih memiliki persediaan makanan dan air, tetapi pilihan menu menjadi semakin terbatas.

“Kami masih memiliki makanan dan air, tetapi sekarang semuanya lebih sederhana,” ujarnya.

Ia mengatakan daging sapi dan ayam masih tersedia, sementara sayuran serta lentil mulai sulit diperoleh.

Menyaksikan Serangan dari Dekat

Islam mengaku masih merasa beruntung meski harus terjebak berbulan-bulan. Pada hari kedua konflik, kapalnya berada hanya sekitar 200 meter dari Pelabuhan Jebel Ali di Dubai yang menjadi sasaran serangan Iran.

Sejak saat itu, ia dan 30 awak kapal lainnya telah berkali-kali menyaksikan serangan militer secara langsung.

“Kadang-kadang rudal melintas di atas satu kapal, dan kadang-kadang puing-puing jatuh ke kapal berikutnya,” katanya.

Rashedul Hasan mengaku pengalaman tersebut meninggalkan trauma mendalam.

“Setiap kali serangan berlangsung sepanjang malam, tidak ada dari kami yang bisa tidur. Kami telah menyaksikan kengerian dan kehancuran dengan mata kepala sendiri,” ujarnya.

Menurut data IMO, sedikitnya 11 pelaut dilaporkan tewas dan satu orang masih dinyatakan hilang dalam 39 insiden yang telah terverifikasi.

Walaupun gencatan senjata sempat meredakan ketegangan, aktivitas militer yang masih berlangsung menjadi pengingat bahwa situasi tetap sangat rapuh.

Beberapa pelaut masih melaporkan keberadaan drone dan jet tempur, sementara kapal perang serta kapal selam terus beroperasi di sekitar kawasan tersebut.

“Kapal-kapal ini menggunakan lampu terang. Kami juga mendengar pengumuman melalui pengeras suara. Kapten mengatakan orang Iran melakukan ini untuk mencegah siapa pun melintas,” kata Sajid Masood, koki asal Pakistan yang bekerja di kapal tanker minyak.

Baca Juga :  Sustainable Tourism in Bali: Balancing Preservation and Growth

Ketidakpastian Masa Depan Pelaut

Krisis berkepanjangan mulai memengaruhi industri pelayaran global. Pada awal konflik, sejumlah perusahaan pelayaran menawarkan kenaikan gaji dan tunjangan tambahan agar para pelaut tetap bertahan.

Namun, kondisi tersebut berubah seiring meningkatnya kerugian operasional perusahaan.

Seorang pelaut Pakistan bernama samaran Kamil mengatakan perusahaan kini mulai mengurangi berbagai tunjangan dan memberi pilihan kepada awak kapal untuk mengakhiri kontrak mereka.

Di sisi lain, banyak kontrak pelaut telah habis dan proses pergantian awak kapal tertunda. Situasi ini dikhawatirkan akan memicu kekurangan tenaga kerja maritim, bahkan setelah konflik berakhir.

“Krisis ini menunjukkan betapa berbahayanya pekerjaan ini. Banyak pelaut mungkin akan memandang profesi ini secara berbeda,” kata Kamil.

Masood pun mulai mempertimbangkan kembali kariernya sebagai pelaut. Kontrak kerjanya hanya tersisa satu bulan.

Namun, sebelum mengambil keputusan besar, ia hanya berharap dapat kembali ke Pakistan dan membawa oleh-oleh untuk keluarganya.

“Saya pikir saya akan segera pulang, tetapi sekarang kami masih terjebak di dekat Selat Hormuz tanpa rencana masa depan yang jelas,” ujarnya.

“Setiap hari keluarga saya bertanya kapan saya akan kembali, tetapi saya tidak punya jawaban untuk mereka.”

Diplomasi Menjadi Harapan Terakhir

Perusahaan data maritim Kpler mencatat sekitar 750 kapal berhasil melintasi Selat Hormuz sejak 28 Februari.

Dr. Jonathan Schroden dari CNA, lembaga riset nirlaba berbasis di Washington DC, menyebut sebagian besar kapal tersebut berasal dari China, India, dan Pakistan.

Menurutnya, keberhasilan itu kemungkinan diperoleh melalui diplomasi langsung dengan Iran.

“Tampaknya mereka juga membayar biaya beberapa juta dolar per kapal,” ujarnya.

Bagi Banglar Joyjatra, jalur diplomasi kini menjadi satu-satunya harapan. Pemerintah Bangladesh bersama Bangladesh Shipping Corporation (BSC) terus berupaya mengupayakan izin keberangkatan kapal tersebut.

Direktur Pelaksana BSC, Komodor Mahmudul Malek, mengatakan Bangladesh awalnya bersedia membayar biaya yang diminta Iran.

Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah Amerika Serikat mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada negara mana pun yang melakukan pembayaran tersebut.

“Kami sekarang berada dalam krisis ganda,” kata Malek.

Krisis di Selat Hormuz tidak hanya mengancam kelancaran perdagangan energi global, tetapi juga memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi para pelaut sipil ketika konflik geopolitik terjadi. Di tengah ketidakpastian itu, diplomasi internasional menjadi harapan utama agar ribuan awak kapal dapat kembali pulang dengan selamat. (LLN/*)

Berita Terkait

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Jadi Rp2.711.000 per Gram
Kisah Karmila Purba, Joki Tong Setan Indonesia Tampil di Inggris
Cara Aktivasi SIM Digital Gratis, Prosesnya Kurang dari 5 Menit
5 Kabar Baik dari Berbagai Negara yang Jarang Tersorot
Kenaikan Harga Pertamax 10 Juni 2026 Bikin Biaya Full Tank Mobil Meningkat
Pertamina Jelaskan Penyebab BBM Nonsubsidi Naik Tiba-Tiba
Kepulangan Jamaah Haji Dimulai Setelah Tawaf Perpisahan
Lagu Champions IShowSpeed Jadi Soundtrack Resmi Piala Dunia 2026
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 10:17 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Jadi Rp2.711.000 per Gram

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:05 WIB

Kisah Karmila Purba, Joki Tong Setan Indonesia Tampil di Inggris

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:07 WIB

Cara Aktivasi SIM Digital Gratis, Prosesnya Kurang dari 5 Menit

Rabu, 10 Juni 2026 - 19:29 WIB

5 Kabar Baik dari Berbagai Negara yang Jarang Tersorot

Rabu, 10 Juni 2026 - 11:15 WIB

Kenaikan Harga Pertamax 10 Juni 2026 Bikin Biaya Full Tank Mobil Meningkat

Berita Terbaru

Sony 1000X The Collexion Rilis di Indonesia, Ini Harganya (Foto: medcom)

Teknologi

Sony 1000X The Collexion Rilis di Indonesia, Ini Harganya

Sabtu, 13 Jun 2026 - 12:07 WIB

ILustrasi. 5 Rekomendasi Film Horor Incel Terbaru (Foto: Ai)

Showbiz

5 Rekomendasi Film Horor Incel Terbaru

Sabtu, 13 Jun 2026 - 11:10 WIB

Ilustrasi. Harga Emas Antam Hari Ini Naik Jadi Rp2.711.000 per Gram (Foto: Ai)

Finansial

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Jadi Rp2.711.000 per Gram

Sabtu, 13 Jun 2026 - 10:17 WIB