Dengarkabar.com – Di tepian Sungai Batanghari yang membelah wilayah Jambi, berdiri salah satu warisan sejarah paling penting di Indonesia, yakni Candi Muaro Jambi. Situs ini dikenal sebagai kompleks percandian Buddha terluas di Asia Tenggara dengan luas mencapai sekitar 3.981 hektare. Kawasan bersejarah tersebut berada di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, sekitar 26 kilometer dari pusat Kota Jambi.
Keberadaan Candi Muaro Jambi menjadi bukti kuat bahwa Pulau Sumatera pernah menjadi pusat peradaban besar yang berpengaruh dalam perkembangan agama, pendidikan, dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara.
Pusat Pendidikan Buddha pada Masa Kejayaan Kerajaan
Para ahli memperkirakan kompleks Candi Muaro Jambi dibangun antara abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi. Periode tersebut bertepatan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu Kuno yang memiliki pengaruh luas dalam jaringan perdagangan serta penyebaran ajaran Buddha di Asia.
Berdasarkan hasil kajian arkeologi, kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat peribadatan. Candi Muaro Jambi juga diyakini menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan agama Buddha yang penting pada masanya. Peran tersebut menjadikan kawasan ini sebagai salah satu pusat intelektual di Asia Tenggara pada era klasik.
Ditemukan Kembali dan Terus Diteliti
Catatan mengenai keberadaan situs ini pertama kali muncul pada tahun 1824 ketika seorang tentara Inggris bernama S.C. Crooke melaporkan temuan reruntuhan bangunan kuno di kawasan tersebut.
Meski demikian, penelitian dan pemugaran secara intensif baru dilakukan pemerintah Indonesia mulai tahun 1975. Hingga sekarang, proses penelitian masih terus berlangsung karena para arkeolog menduga masih terdapat sejumlah struktur bangunan kuno yang tertimbun di bawah permukaan tanah dan belum sepenuhnya terungkap.
Temuan-temuan baru dari kawasan ini berpotensi memberikan gambaran lebih lengkap mengenai kehidupan masyarakat serta perkembangan agama Buddha di Nusantara pada masa lampau.
Keunikan Arsitektur Candi Muaro Jambi
Salah satu daya tarik utama Candi Muaro Jambi terletak pada teknik pembangunannya. Kompleks ini tersusun dari batu bata merah yang disusun tanpa menggunakan semen sebagai perekat.
Kawasan percandian membentang sepanjang kurang lebih 7,5 kilometer mengikuti aliran Sungai Batanghari. Di dalamnya terdapat sejumlah bangunan utama yang memiliki karakteristik berbeda, antara lain Candi Kedaton, Candi Gumpung, Candi Kembar Batu, dan Candi Tinggi.
Setiap candi memiliki bentuk serta fungsi tersendiri yang mencerminkan kompleksitas kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat pada masa itu.
Destinasi Wisata Budaya dan Religi
Selain bernilai sejarah tinggi, Candi Muaro Jambi kini berkembang sebagai salah satu destinasi wisata budaya dan religi unggulan di Provinsi Jambi.
Pengunjung dapat menikmati suasana tenang khas kawasan cagar budaya sambil bersepeda atau menjelajahi area percandian yang teduh dan dikelilingi hamparan hijau. Lingkungan yang masih alami menjadikan kawasan ini menarik bagi wisatawan, peneliti, maupun pecinta sejarah.
Sebagai bentuk pengakuan terhadap nilai universalnya, pemerintah Indonesia telah mengajukan Candi Muaro Jambi sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2009.
Warisan Peradaban yang Terus Dilestarikan
Candi Muaro Jambi bukan sekadar peninggalan arkeologi, melainkan simbol kejayaan peradaban Nusantara yang pernah memainkan peran penting dalam perkembangan agama, pendidikan, dan budaya di Asia Tenggara.
Upaya pelestarian yang terus dilakukan menjadi langkah penting untuk menjaga warisan sejarah tersebut agar tetap dapat dipelajari dan dinikmati oleh generasi mendatang. Dengan kekayaan sejarah dan nilai budaya yang dimilikinya, Candi Muaro Jambi tetap menjadi salah satu aset berharga bangsa Indonesia yang patut dijaga bersama. (LLN/*)










Komentar