Dengarkabar.com – Los Angeles mempercepat upaya penanganan tunawisma menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Pemerintah kota gencar membersihkan kawasan trotoar dari tenda-tenda darurat guna menyambut kedatangan tim nasional dan suporter dari berbagai negara.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Karen Bass, ribuan warga tunawisma direlokasi ke hunian prefabrikasi berukuran sekitar 6 meter persegi yang dikenal sebagai tiny homes. Untuk menjalankan program tersebut, Pemerintah Kota Los Angeles mengalokasikan anggaran sebesar USD 300 juta atau sekitar Rp4,8 triliun.
Langkah ini mulai menunjukkan hasil. Kluster tenda di sejumlah kawasan ikonik, seperti Hollywood dan Pantai Venice, dilaporkan berkurang secara signifikan. Berdasarkan sensus terbaru, jumlah tunawisma yang hidup di jalanan turun 17,5 persen dalam dua tahun terakhir. Capaian itu menjadi penurunan paling konsisten sejak pendataan dilakukan sekitar dua dekade lalu.
Penghuni Tiny Homes: Lebih Baik dari Jalanan, tetapi Jauh dari Ideal
Michael Gilpin (44), salah satu penghuni fasilitas tersebut, mengakui bahwa hunian satu ruangan itu terasa seperti sel penjara. Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut tetap lebih layak dibandingkan kehidupan yang pernah dijalaninya.
“Sangat jauh lebih baik daripada hidup di jalanan,” ujar Gilpin, seperti dikutip dari The Japan Times, Senin (8/6/2026).
Sebelumnya, Gilpin harus tidur di dalam mobil sambil menghadapi berbagai persoalan, termasuk kondisi lingkungan yang tidak sehat.
Krisis Tunawisma Los Angeles Masih Besar
Di balik penurunan jumlah tenda di ruang publik, sejumlah pihak menilai kebijakan tersebut belum menyentuh akar persoalan tunawisma di Los Angeles.
Data menunjukkan, Los Angeles County masih memiliki sekitar 72.000 penduduk tanpa tempat tinggal tetap. Dari jumlah tersebut, sebanyak 47.000 orang hidup telantar di jalanan.
Situasi serupa terlihat di San Fernando Valley. Jumlah tunawisma di wilayah itu mencapai empat hingga lima kali lipat dibandingkan kapasitas tempat tidur yang tersedia di tempat penampungan.
Akibat keterbatasan fasilitas, pembongkaran permukiman tenda belum sepenuhnya efektif. Setelah sebuah kamp tenda dibersihkan bulan lalu, belasan tenda baru dilaporkan kembali bermunculan tidak jauh dari lokasi sebelumnya karena banyak orang belum mendapatkan akses hunian.
Antrean Panjang dan Ketidakpastian
Terbatasnya kuota hunian membuat banyak tunawisma harus menunggu dalam waktu lama untuk memperoleh bantuan.
Maggie, seorang perempuan berusia 40-an yang telah hidup di jalanan selama satu dekade, mengaku masih menunggu kepastian dari pemerintah kota.
“Saya sudah menunggu selama tiga bulan agar mereka bisa membantu saya,” katanya.
Maggie berharap dapat segera memperoleh tempat tinggal permanen sehingga memiliki kesempatan membangun kembali kehidupannya.
Aturan Ketat Tiny Homes Dinilai Kurang Efektif
Permasalahan lain muncul dari aturan ketat yang diterapkan di fasilitas tiny homes. Penghuni dilarang menerima tamu atau pengunjung, kebijakan yang dinilai sebagian pihak membuat program tersebut kurang efektif.
Data hingga akhir 2025 menunjukkan bahwa dari 5.800 orang yang pernah tinggal di hunian tersebut, sekitar 40 persen memilih keluar dan kembali hidup di jalanan.
Fenomena itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk aturan yang dianggap terlalu kaku serta krisis ketersediaan hunian terjangkau di California. Kondisi tersebut mendorong rata-rata biaya sewa apartemen studio mencapai USD 1.800 atau sekitar Rp29 juta per bulan.
Biaya Hidup Tinggi Jadi Tantangan Utama
Michael Reyes (59) menjadi salah satu contoh warga yang terdampak tingginya biaya hidup di Los Angeles. Pria yang bekerja di bidang pemeliharaan itu terpaksa tinggal di kursi belakang mobilnya selama setahun setelah mengalami kecelakaan kerja.
Menurut Reyes, tunjangan bulanan yang diterimanya tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup yang terus terjadi.
“Biaya hidup kami terus naik, tetapi pendapatan kami tidak. Ada yang salah dengan sistem ini,” ujar Reyes, yang kini menghuni salah satu unit tiny homes.
Menjelang usia lanjut, Reyes meragukan keberlanjutan program tersebut. Ia meyakini perhatian pemerintah terhadap kondisi trotoar dan kawasan wisata akan berkurang setelah Piala Dunia 2026 berakhir.
“Mereka melakukan ini semua hanya demi turis,” katanya.
“Oh, mari bersihkan Hollywood. Namun, realitas di kota ini tidak akan pernah benar-benar berubah,” tambah Reyes.
Antara Penataan Kota dan Solusi Jangka Panjang
Program relokasi tunawisma ke tiny homes memang membantu mengurangi jumlah tenda di ruang publik Los Angeles menjelang Piala Dunia 2026. Namun, berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan kapasitas penampungan, mahalnya biaya sewa, hingga minimnya hunian permanen yang terjangkau, menunjukkan bahwa krisis tunawisma di kota tersebut belum terselesaikan.
Bagi banyak pihak, keberhasilan sesungguhnya tidak hanya diukur dari bersihnya trotoar saat perhelatan internasional berlangsung, melainkan dari kemampuan pemerintah menghadirkan solusi berkelanjutan bagi puluhan ribu warga yang masih berjuang mendapatkan tempat tinggal layak. (LLN/*)










Komentar